Header Ads

Walikota Bima Jelaskan Kemajuan Dunia Kesehatan di Dua Tahun Kepemimpinanya


                                               Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi, SE

Visioner Berita Kota Bima-Selama dua tahun dengan sekarang menjabat sebagai Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi, SE menegaskan tak pernah tinggal diam. Tetapi, lebih memfokuskan diri untuk bekerja bersama seluruh instrumen birokrasi setempat.

Di bidang kesehatan misalnya, Lutfi mengaku menitik beratkan pada kinerja nyata. Membebaskan sekitar 32 ribu warga miskin Kota Bima soal BPJS gratis merupakan salah satu bukti nyata kinerja Walikota yang juga kader terbaik Partai Golkar ini (Lutfi, Red). Belum lagi soal pembangunan Puskesmas dengan sarana dan fasilitas memadai sera menghadirkan Dokter ahli dengan gaji tertinggi di Nusa Tenggara Barat.

“Sejak awal hingga sekarang, saya masih fokus pada bekerja. Bekerja dengan sungguh-sungguh tetap bersifat mutlak sehingga daerah kita ini mengalami kemajuan. Yang pertama, kita tata pelayanan dasar. Sedangkan selama ini, sarana dan prasarana kita kurang layak. Karenanya, kita bangus Puskesma Paruga, Puskesmas Rasanae Timur, Puskesmas Mpunda yang sedang berjalan. Dan tahun depan kita bangun Puskesmas Kumbe. Artinya ada empat Puskesmas yang kita persiapkan,” terang Lutfi kepada sejumlah awak media, Jum’at (27/11/2020).

Disamping itu, pihaknya juga melakukan penataan terhadap Rmah Sakit (RS). Terkait hal itu, pihaknya menghaier enam orang dokter spesialis, dan mengontrak hampir 19 orang Dokter umum.

“Hal dimaksudkan agar pelayanan di bidang kesehatan di Kota Bima agar semakin baik, dan kemudian ditunjang oleh alat-alat kesehatan yang cukup. Alhamdulillah semuanya bisa kita lakukan. Kita sudah memiliki ruang isolasi. Kita juga sudah memiliki fentilator yang berjumloah dua buat, dan Insya Allah besok kita tambah,” ujarnya.

Hal tersebut, diakuinya diperoleh dari Pusat baik bantuan dari Universitas Indonesia (UI), Duta Besar Amerika dan dari Badan Bencana Nasional.

“Disamping itu pula, kita menginginkan adanya pelayanan RS yang mandiri, untuk ke depanya kita rancang menjadi Badan Usaha Layanan Daerah (BULD). Sehingga tenaga-tenaga kesehatan kita menjadi layak untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik lagi. Sebab, selama ini tenaga kesehatan kita terorientasi banyak yang meninggal RS sehingga, kecuali datang ke Puskesmas hanya untuk mendapatkan Jasa Pelayanan (Jaspel),” ungkapnya.

Masih soal itu, Lutfi menegaskan bahwa orientasinya harus dibalik. Dengan adanya kemandirian RS tersebut, maka sistim pengelolaanya management keuanganya sehingga bisa tertata dengan baik. “Pada bidang kesehatan, pada tahun lalu (2019) sudah melebih pagu yang diperintahkan. Pagi kita sudah lebih dari 10 porsen (sudah 12 porsen), yang harusnya dialokasikan hanya 10 porsen. Dalam kaitan itu, artinya Pemkot Bima sangat komitmen dengan dunia kesehatan,” bebernya.

Sementara diawal-awal Kepemimpinanya, Lutfi mengintervensi masyarakiat yang tidak mampu sehingga digelontorkan BPJSnya yang sampai dengan hari ini telah dibayarkan hampir Rp9 miliar. “Ini sebagai salah satu komitmen kita terhadap dunia kesehatan. Angka Rp9 miliar itu adalah untuk membayar BPJS masyarakat miskin di Kota Bima dengan jumlah hampir 32 ribu orang,” ujar Lutfi.

Sementara tantangan yang dihadapi dalam dunia kesehatan ini, diakuinya lebih kepada bagaimana menciptakan Dokter-Dokter spesialis yang berasal dari Bima. Sebab, tak sedikit Dokter spesialis asal Bima di luar sana yang sampai dengan saat ini tidak kembali ke Bima.

“Itu lebih dikarenakan oleh sarana dan prasarana di bidang kesehatan yang tidak menunjang. Salah satunya, yakni anak Pak Rum yang ahli di bidang anastesi namun tidak dilengkapi dengan alat-alat yang ada. Insya Allah, nanti Putra-putri terbaik Bima yang berstatus sebagai Dokter spesialis tersebut dipastikan akan kembali ke Bima,” harapnya.

Sementara kendala yang dihadapinya di bidang kesehatan, yang paling pertama adalah soal tenaga ahli. Hal ini diakuinya menyangkut Sumber Daya Manusia. “Kita mengakui hal itu. Tetapi greet kita tinggi, Pak. Bayangkan saja baru dua tahun RS di Kota Bima berdiri, tipenya langsung loncat. Greet RS di Kota Bima masih tinggi jika dibandingkan dengan RS Sondosia di Kabupaten Bima. Hal itu membuktikan adanya keseriusan kita di dalam menata RS,” bebernya.

Mengenai lahan RS Kota Bima yang berlokasi di Kecamatan Asakota yang dinilai kurang memadai sehingga muncul harapan dibangun baru di atas lahan yang luas, Lutfi menegaskan bahwa hal itu terbetur soal lahan pula. “Membangun baru RS, tentu saja kendala kita ada pada soal lahan. Tidak mudah membangun RS kalau Pemerintah Daerah (Pemda) tidak memiliki lahan,” paparnya.

Masih soal pelayanan di bidang kesehatan, pihaknya juga sudah mengadakan sejumlah mobil ambulance untuk masyarakat Kota Bima. Soal ambulance ini, diakuinya bukan saja dipersiapkan di daerah-daerah pinggir. Namun, hampir ada di semua Kelurahan. “Untuk kedepanya, operasionalnya akan kita pikirkan, apakah akan menggunakan dana Kelurahan atau menggunakan pada masing-masing Pustu,” tutur Lutfi.

Pengembangan pelayanan di bidang kesehatan, ditegaskanya tetap bersifat mutlak. Bukan saja di bidang Kesehatan yang disebut-sebutnya bersifat khusus. Namun pada pada bidang-bidang lainya. Namun yang diambilnya, lebih kepada yang bersifat skala perioritas.

“Kita tata dulu di bidang kesehatan. Hidup ini yangteroenting adalah sehat. Sehat jasmani dan sehat pula rohani. Sehingga seseorang bisa berpikiran jernih, berpikiran besar, dan bisa mempunya gagasan besar. Itulah ciri-ciri orang sehat, memiliki gagasan besar dan tidak memikirkan hal kecil. Dan kita sebagai Kepala Daerah, harus mempunya pikiran yang mencerahkan,” imbuhnya. (TIM VISIONER)     

No comments

Powered by Blogger.