Header Ads

Lawata Sangat Ramai, Banana Boath Hanya Satu dan Pengunjung Harus Ngantri Hingga Maghrib

Para Pengunjung Yang Antara Lain Mengantri Menunggu Banana Boath di Lawata, Minggu (1/1/2023)

Visioener Berita Kota Bima-Minggu (1/1/2023) kondisi keramaian pantai Lawata Kota Bima terlihat padat-merayap. Ribuan pengunjung yang datang dari berbagai wilayah termasuk di Kabupaten Bima datang bertamasya di destinasi wisata mungil Kota Bima ini.

Imbas dari keramaian tersebut, para Pedagang Kaki Lima (PKL) dan lainya diamati mendapatkan banyak keuntungan. Keramaian diusung oleh ribaun pengunjung yang merayakan tahun baru 2023 bersama keluarganya di Lawata.

Liputan langsung Media Online www.visionerbima.com pada moment tersebut melaporkan, semua sisi di lawata baik di sebelah barat, timur, utara dan bagian selatanya disesaki para pengunjung.Keramaian tersebut berlangsung sejak pagi hari hingga Maghrib.

Masih dalm liputan langsung Media ini, para pengunjung bukan saja memenuhi lokasi berenang anak-anak. Tetapi juga terlihat membakar ikan di lokasi itu untuk memudian menikmatinya bersama keluarga, handai dan taulanya yang datang bertamasya di Lawata.

Semementara yang cenderung sepi di lokasi itu adalah Kafe Fix La Luna. Di Fix La Luna terlihat hanya digunakan untuk kegiatan lamaran warga yang menikah. Masih dalam liputan langsung Media ini, kolam renang di Lawata juga penuh karena disesaki oleh para pengunjung.

Tak hanya itu, lokasi pembanguan Food Coat yang baru selesai dibangun juga terlhatsangat ramai. Di tempat itu dimanfaatkan oleh ratusan pengunjung untuk berfoto barenga bersama keluar, sanak, saudara dan handai taulanya. Sementara yang paling diburu oleh para pengunjung pada moment tersebut adalah banana boath.

Untuk menikmati banana boath tersebut, terlihat para pengunjung harus rela ngantri mulai dari sekitar pukul 13.00 Wita hingga maghrib. Sedangkan fasilitas banana boath yang disiapkan oleh Pemerintah (Pemkot) Bima di Lawata hanya satu unit saja. Sementara donal yang sebelumnya ada dan digunakan oleh wisatawan di Lawata, dijelaskan sudah mengalami kerusakan yang hingga saat ini belum juga diperbaiki.

Berdasarkan data dari hasil investigasi Media ini mengungkap, untuk menikmati banana boath tersebut per orang pengunjung harus membayar Rp20 ribu. Dan hal tersebut dijelaskan sudah ditetapkan melalui Perda oleh Pemkot Bima.

“Kami harus rela mengantri sejak ba’da Dzuhur hingga Maghrib menikmati banana boath tersebut. Lihat sendiri banyak sekali para pengunjung yang menunggu banana boath tersebut,” ujar puluhan pengujung kepada Media ini pada Minggu siang (1/1/2023).

Lagi-lagi dalam liputan langsung Media ini melaporkan, para pengunjung yang berwista di pantai Lawata tersebut bukan saja orang tua, dewasa maupun remaja. Tetapi juga anak-anak. Sedangkan kekurangan yang terjadi pada moment tersebut menurut para pengunjung adalah soal WC umum yang disediakan hanya 1 unit oleh Pemkot Bima, tepatnya di Musholahnya.

“Kalau soal air bersihnya, Alhamdulillah hari ini lancar. Pun demikian halnya dengan air bersih yang dipergunakan untuk berwudhu. Hanya saja yang kurang ada WC umumnya. Untuk buang air kecil maupun air besar, kami harus menunggu lama di WC umum itu. Untuk itu, kami berharap agar Pemkot Bima segera menambah WC umum,” desak para pengunjung.

Tak hanya itu, para pengunjung juga mendesak Pemkot Bima agar segera membersihkan semak belukar yanghampir menyerupai hutan rimba di sekeliling bukit pantai Lawata. Hal itu ditegaskanya sebagai sebuah masalah yang tentu saja sangat mengganggu nilai esttetika di pantai Lawata.

“Segera babat semua semak belukar yang ada di Lawata ini. Jika tidak, maka lama kelamaan akan menjadi hutan belantara. Dan dengan demikian maka pantai Lawata akan semakin jauh dari nilai estetika,”imbuh para pengunjung.

Bukan itu saja,para pengunjungjuga menyayangkanada beberapa fasiltas yang dibeli dengan biaya mahal oleh pihak Pemkot Bima namun sampai saat ini masih mengalami kerusakan sangat serius alias belum diperbaiki.Yakni dua unit jet sky yang sampai saat ini masih dibiarkan begitu saja.

“Andaikan saja fasilitas jet sky tersebut diperbaiki maka tentu saja akan menambah PAD Kota Bima. Namun yang terjadi,fasilitas yang dibeli dengan biaya mahal bersumber dari APBD 2 Kota Bima tersebut justeru hingga hari ini masih dibiarkan begitu saja,” keluh para pengunjung.

Masih dalam liputan langsung Media ini, keramaian di Lawata tersebut terlihat masih saja terjadi hingga ba’da Sholat Maghrib. Terlepas dari banyaknya pengunjung yang kembali ke kampung halamanya juga banyak pula yang berdatangan bersama kelaurga, sanak, saudara dan handai taulanya.

Hal tersebut mencerminkan bahwa “gangguan” estetika yang terjadi di Lawata sedikitpun tak berpengaruh kepada kunjungan para wisatawan, khususnya pada awal tahun baru 2023 (1/1/2023). Hanya saja yang mendesak dibutuhkan adalah pembenahan secara totalitas. Yakni mulai dari semak belukar, perbaikan sejumlah fasilitas meramaikan kembali Lawata seperti sediakala yakni dengan membakitkan kembali para PKL yang telah bangkrut serta meninggalkan Lawata itu.

Yang tak kalah “menyedihkan” di Lawata adalah soal kapal Banwa 117 yang merupakan sumbangand ari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI bebarapa tahun silam. Kendati pada Minggu itu Lawata disesaki oleh ribuan pengunjung, namun tak satupun yang melirik Kapal Banawa. Haltersebut diduga karena alat transportasi laut tersebut yakni kini tidak dibenahi secara total oleh Dinas terkait. 

Sementara soal keamanan di Lawata misalnya, sejak H. Muhammad Lutfi, SE menjabat sebagai Walikota Bima hingga saat ini destinasi wisata mungil andalam Kota Bima tersebut masih sangat terjaga dengan baik. Maksudnya, Lawata masih dalam keadaan aman dan kondusif. Hal itu yang diakui menjadi salah satu pemicu ramainya kunjunga wisawatan di pantai Lawata sejak saat ini dan bahkan masih berlangsung sampai dengan saat ini. (TIM VISIONER) 

No comments

Powered by Blogger.