Penerbangan Seluruh Maskapai Tujuan Bandara Bima Batal, Dikarenakan Kabut Haze

Ilustrasi

Visioner Berita Kabupaten Bima-Dikarenakan cuaca buruk (bad weather), penerbangan tujuan Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima (BMU) seluruh maskapai terganggu dan dibatalkan. 

Hal tersebut dibenarkan dari Unit Penyelenggara Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin Bima. 

Kepala Unit Penyelenggara Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Fitra Jaya, menjelaskan, penerbangan tujuan Bima seluruh maskapai dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid (Bizam) dan Bandara Ngurah Rai dibatalkan (cancelled) karena gangguan cuaca. 

"Benar pesawat dari Lombok dan Denpasar di cancel dengan alasan cuaca,” terang Fitra Jaya kepada wartawan, Kamis (4/1/2023) malam. 

Secara terpisah, Landside Wings Abadi Airlines (Lion Air Group) Bandara Sultan M Salahuddin Bima, Ulfa Dwiyanti yang dikonfirmasi, membenarkan jika tidak ada Maskapai Wings yang mendarat di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima pada Kamis, 4 Januari 2023 sore. Penyebabnya karena cuaca buruk. 

"Tadi sore tidak ada pesawat yang landing khususnya untuk Wings dikarenakan curah hujan di Kabupaten Bima area Bandara SMS," jelas Ulfa. 

Sebagaimana penjelasan pihak BMKG Bima, Ulfa menduga kemungkinan pembatalan penerbangan tujuan Bima juga bisa disebabkan kabut Haze yang mengganggu jarak pandang. 

Kabut Haze yang memengaruhi jarak pandang masuk kategori cuaca buruk (bad weather) bagi penerbangan. 

"Dikarenakan jarak pandang yang ditentukan untuk landing tidak memenuhi syarat atau di bawah kententuan 5 km," ujar Ulfa. 

Sebelum munculnya kabut, aktivitas penerbangan ke Bandara Bima pada pagi hari masih ada. 

Sebelumnya, Forecaster BMKG Bima, Jumratul Aida menyebut, munculnya kabut kering di wilayah Bima karena fenomena Haze, yang salah satu dampak langsung adanya tersebut berkurangnya jarak pandang. 

"Berpengaruh terhadap penerbangan. Nama fenomena ini haze atau partikel kering yang sangat halus melayang di atmosfer. Partikel kering ini jumlahnya sangat banyak sehingga mengurangi jarak pandang, dapat mengganggu aktifiktas penerbangan maupun pelayaran," katanya. 

Jumratul menjelaskan, partikel kering tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk asap, debu jalan, debu gunung berapi, dan partikel lain yang dipancarkan langsung ke atmosfer.

Kondisi kabut kering tampak semakin kuat, sehingga jarak pandang pelayaran sekitar  Teluk Bima semakin berkurang. Fenomena ini juga terpantau di Kecamatan Bolo dan Kecamatan Madapangga, di mana para pengendara tidak dapat melihat objek lebih dari 1 kilometer karena ditutup kabut kering. (Fahriz)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.