“Gangguan Mental di NTB Melonjak, Juga Dipicu Oleh Medsos”

Dr. dr. Lalu Hamzi Fikri 

Visioner Berita Mataram, NTB-Gangguan mental yang menimpa masyarakat NTB kini diduga mengalami peningkatan. Antara lain soal “stres” hingga disebabkan oleh paparan Media Sosial (Medsos).

Informasi dan data yang dinilai penting ini disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dikes NTB), Dr. dr. Lalu Hamzi Fikri kepada Wartawan, Minggu (12/4/2026). Fikri mengungkapkan, survei kesehatan menyebutkan, satu dari sepuluh orang memiliki potensi mengalami gangguan mental.

“Masalah ini dipengaruhi oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal,” beber Fikri.

Fikri menjelaskan, faktir internal yakni berkaitan dengan kemampuan individu dalam mengelola emosi dan beradaptasi terhadap tekanan hidup. Sedangkan faktor eksternal, diakuinya meliputi lingkungan, antara lain dipicu oleh paparan informasi dari Medsos dan hal itu dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Oleh sebab itu, , deteksi dini menjadi langkah penting. Antara lain cara sederhananya yakni dengan mengenali kondisi diri sejak bangun tidur seperti adanya rasa cemas, ketidak nyamanan, atau pikiran negatif yang berlebihan.

“Disaat seseorang mulai merasakan ketidak seimbangan secara mental, disarankan agar segera mencari bantuan. Bantuan tersebut baik melalui konseling maupun pemeriksaan ke tenaga profesional,” imbuhnya.

Selain deteksi dini, Fikri juga meminta agar masyarakat masyarakat memperbanyak kegiatan positif sebagai bentuk penyaluran emosi. Menurutnya, aktivitas fisik seperti olah raga, menjaga kesibukan yang produktif dan menghindari paparan konten negatif efektif membantu menjaga kesehatan mental.

Fikri kemudian menekankan bahwa pengaturan penggunaan Medsos menjadi bagian penting. Sebab, paparan informasi yang berlebihan, antara lain yang bersifat negatif akan memengaruhi pikiran dan perilaku seseorang. Untuk itu, Fikri menghimbau kepada masyarakat agar selektif dalam mengonsumsi informasi.

“Jika Medsos mempengaruhi pikiran kita maka tentu saja kita ikut terpengaruh. Oleh sebab itu, kita bisa menghindari banyak hal. Antara soal berita-berita yang membuat kita stress,” saranya.

Masih sooal itu, Fikri kembali menyarankan bahwa antara lain konsep “healing” menjadi bagian dari menjaga keseimbangan mental. Hal tersebut bisa dilaksanakan dengan cara meluangkan waktu bagi diri sendiri. Dan kegiatan tersebut bisa dilaksanakan minimal satu kali dalam seminggu.

Fikri menandaskan, para ahli juga menekankan pentingnya mengelola harapan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara ekspektasi yang dinilai berlebihan tanpa diimbangi kemampuan, tentu saja berpotensi besar memicu stres. Untuk itu, disarankan bahwa kemampuan mengendalikan pikiran dan menerima kondisi bisa membantu menjaga kebahagiaan.

“Karena aktivitas yang terlalu tinggi, maka kita semua perlu healing,” saranya.

Fikri kembali menegaskan, dalam kaitan itu Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB terus memperkuat layanan kesehatan jiwa di Fasilitas Kesehatan (Faskes). Tak hanya itu, pihaknya terus mendorong agar melkakukan deteksi dini.

Diakuinya, layanan kesehatan jiwa saat ini telah tersedia di berbagai Faskes di NTB. Yakni mulai dari Rumah Sakit (RS) hingga Puskesmas. Di RS misalnya, masalah tersebut ditangani oleh tenaga profesional (Psikiater dan Psikolog). Sementara di Puskesmas, diakuinya telah berjalan Program Kesehatan Jiwa (Keswa) yang memberikan layanan dasar, tak terkecuali konseling.

“Beberapa lembaga swasta juga mulai menyediakan layanan serupa. Hal itu penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap penanganan kesehatan mental,” paparnya.

Kendati demikian tuturnya, layanan gawat darurat khusus kesehatan jiwa masih menjadi tantangan. Layanan darurat seperti nomor 119 dapat terintegrasi dengan penanganan kasus kesehatan jiwa sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa negara. Namun sistem tersebut, diakuinya hingga kini belum sepenuhnya dilaksanakan, khususnya di NTB. (JOEL/RUDY/AL/AA/DK/DINO)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama