![]() |
| Ketua MUI Kota Bima, H. Ahmad Mahmud, S.Ag |
Visioner Berita Kota Bima-Peredaran Narkotika jenis sabu di Bima, baik Kota maupun Kabupaten ditegaskan bukan hal baru. Tetapi berlangsung sejak puluhan tahun silam dan diakui masih berlangsung sampai dengan saat ini.
Sementara “penikmat sabu”, terungkap mulai dari “kelas elit hingga level warga berstatus ekonomi rendah”. Sedangkan perjuangan keras Polri (khususnya Polres Bima Kota) dalam melakukan pemberantasan sabun hingga membekuk para pelakunya, pun dilakukan sejak lama dan masih intens dilakukan sampai sekarang.
Pertanyaan sial “kian suburnya” peredaramn sabu tersebut pun terjawab secara perlahan. Antara lain minimnya partisipasi publik melalui gerakan nyata pada masing-masing lingkunganya, dan bahkan “cenderung melakukan pembiaran”. Sementara yang suara yang terdengar nyaring terkait pemberantasan sabu, dinilai dominan dilakukan melalui beranda Media Sosial (Medsos) yang diakui justeru memberi ruang besar bagi kian rapinya strategi para bandar, pengedar maupun pengguna sabu.
Tak hanya itu, suara lantang soal pemberantasan sabu di ranah maya (Medsos) acap kali disebut-sebut sebagai sarana transaksional, sikap “belah bambu alias satu dibongkar dan yang lainya sengaja dibungkus dan kemjudian diperlakukan bak sapi perahan”. Meski demikian “perilakunya”, Polisi cenderung disalahkan dan bahkan “acapkali dilemahkan”, kendati intensitasn pengungkapan kerap kali dilakukan. Fenomena yang dinilai “cukup unik” tersebut pun kerap terngiang di telinga saat sejumlah Awak Media melakukan investigasi di lapangan.
Catatan Investigasi Media Online www.visionerbima.com mengungkap beragam modus operandi yang dilakukan oleh oknum tertentu sebagai salah satu pemicu bagi dugaan kian maraknya peredaran sabu di Bima. Antara lain “upaya cuci gundang, bagun gudang dan kelompok tertentu tercatat sebagai bagan terpenting dari isi gudang” (“bersihkan bendara lama, hadirkan bendera baru dan kelompok tertentu tersebut sebagai pelindung para bandar dan bahkan sindikat s abu”).
Seiring dengan dugaan kian maraknya peredaran sabu tersebut, majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bima yang sebelumnya jarang bicara kini bersuara keras. Ketua MUI setempat, H. Ahmad Mahmud S.Ag menegaskan bahwa perang melawan sabu adalah harga mati.
“Generasi muda dan masa depan serta keberlangsungan hidupnya harus diselamatkan dari jeratan sabu. Kita semua sudah menyatakan kesepakatan untuk tidak pada Narkoba. Oleh sebab itu, lakukan aksi nyata pada masing-masing wilayah domisli dan kemudian membangun kerjasama secara realistis dengan Aparat Penegah Hukum (APH), terutama Polisi agar segera menangkap para pelakunya,” desak Ahmad.
Intensitas pengungkapan kasus sabu oleh Satresnarkoba Polres Bima Kota hingga para pelakunya dibekuk dan mengamankan Barang-Bukti (BB) sabu, diapresiasi oleh MUI Kota Bima. Pun demikian halnya dengan aspek penagakan supremasi hukum yang dilakukan oleh APH hingga para pelaku berpindah domisili dari rumah ke penjara.
“Kian tumbuh dan suburnya peredaran sabu di Bima, antara lain dipicu oleh terbaikanya kesadaran partisipatif masyarakat pada lingkunganya masing-masing. Polisi tak boleh dibiarkan bekerja sendiri, tetapi sangat dibutuhkan kesdaran partisipatif nyata dari seluruh elemen masyarakat. Sementara upaya pemberantasan sabu oleh pihak Polres Bima Kota hingga aspek penegakan hukum terhadap para pelakunya mutlak untuk diapresiasi,” tegas Ahmad.
Ditegaskanya pula, Narkoba merupakan ancaman nyata yang tidak hanya merusak kesehatan. Tetapi juga menghancurkan akhlak, masa depan generasi muda, serta ketahanan keluarga dan masyarakat. Secara luas. Oleh sebab itu, segala bentuk upaya pemberantasannya perlu mendapat dukungan dari seluruh komponen masyarakat.
"MUI Kota Bima mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung langkah aparat Kepolisian dalam memberantas peredaran Narkoba. Ini adalah ikhtiar bersama untuk melindungi generasi muda dan menjaga keberkahan serta ketenteraman Kota Bima,” papar Ahmad.
Ahmad menjelaskan, Islam mengajarkan setiap persoalan diselesaikan dengan cara yang baik, bijaksana dan sesuai dengan aturan yang berlaku.. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk mempercayakan sepenuhnya proses penegakan hukum kepada aparat kepolisian dan lembaga peradilan.
“Mari kita serahkan proses hukum kepada aparat yang diberikan amanah oleh negara. Jangan sampai emosi atau prasangka mengalahkan akal sehat. Percayalah bahwa setiap persoalan memiliki jalur penyelesaian yang telah diatur oleh hukum,” imbuhnya.
Berbagai elemen masyarakat di Bima, terutama di Wilayah Hukum (Wilkum) Polres Bima Kota diingatkanya untuk tidak terjebak pada issue-issue yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa disaat Polisi melakukan pengungkapan kasus Narkoba secara intens. Sementara yang sangat dibutuhkan adalah fakta-fakta yang bisa dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di Akhirat kelak.
“Tabayun atau memastikan kebenaran informasi adalah ajaran Agama yang harus kita pegang. Jangan mudah terprovokasi oleh berita bohong atau issue-issue yang dapat memecah belah persaudaraan. Mari kita menjadi masyarakat yang bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi,” saran Ahmad.
Selain itu, Ahmad mengajak masyarakat untuk menghindari segala bentuk tindakan anarkis dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, penyampaian pendapat merupakan hak setiap warga Negara. Namun harus dilakukan dengan santun, damai dan tidak merugikan kepentingan umum.
“Kota Bima memiliki nilai-nilai Agama, budaya, dan persaudaraan yang harus kita jaga bersama. Jangan sampai tindakan yang melanggar hukum mencoreng marwah daerah yang kita cintai ini. Sampaikan aspirasi dengan damai, penuh adab dan tetap menghormati hak orang lain,” tuturnya.
Ketua MUI Kota Bima kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah sebagai fondasi dalam menjaga keamanan dan ketenteraman daerah.
"Mari kita jadikan Kota Bima sebagai rumah bersama yang penuh kedamaian, saling menghormati, dan saling menguatkan. Dengan menjaga persatuan, mendukung penegakan hukum, serta menjauhi Narkoba dan segala bentuk provokasi, insya Allah Kota Bima akan tetap menjadi daerah yang aman, bermartabat, dan diberkahi Allah SWT,” pungkas Ahmad. (RIZAL/ZOEL/RUDY/AL/AA/DK/AZHAR/DINO)
