Header Ads

Bangunan Jembatan di Tangga Diduga Terjadi Total Los, PPK Justeru Minta Kopdar

Nona Ling: Jika Bermasalah Saya Siap Menerima Resiko Apapun Termasuk Konsekuensi Hukum
Melihat dari dekat Jembatan Tangga yang konstruksinya melengkung itu
Visioner Berita Kabupaten Bima-Fenomena terkait pembangunan jembata di Desa Tangga Kecamatan Monta yang menggunakan pagu anggaran sebesar Rp3,6 M lebih yang bersumber dari APBD 2 Kabupaten Bima tahun 2017 oleh PT. Citra Putera Laterang, hingga kini masih menjadi perbincangan hangat publik khususnya di Bima. Pasalnya, konstruksi proyek pembangunan jembatan tersebut diduga kuat kini sudah melengkung ke bawah, dan ditengarai telah terjadi keretakan serius di sejumlah titik termasuk pada bagian ujung kiri dan kanannya.

Oleh karenanya, sejumlah sumber yang enggan disebutkan identitasnya melalui media massa menduga terjadinya total los (kegagalan konstruksi) terkait proyek pembangunan jembatan berpagu miliaran rupiah itu. Masih soal jembatan Tangga ini, sejumlah pihak juga mendesak aparat penegak hukum untuk segera menyikapinya. Dan Instansi terkait di Kabupaten Bima juga didesak agar segera ke lapangan untuk melihat secara langsung sekaligus menyikapinya.

Sementara informasi terkini yang diperoleh Media ini (Visioner) megungkap, jajaran Polres Bima Kabupaten melalui Sat Reskrim pun dikabarkan sedang bekerja melakukan penyelidikan terkait konstruksi proyek pembangunan jembatan yang diduga mengalami total los ini.

Kabid Bina Marga pada Dinas PUPR Kabupaten Bima, Ir. Sutami yang dimintai tanggapannya pun membenarkan terjadinya dugaan adanya perubahan “kondisi” dari bangunan jembatan tersebut. Oleh karenanya, Sutami mengaku teklah memanggil pihak pelaksana proyek. Dan diakuinya pula, pihak pelaksana proyek sudah membongkar penyanggah bangunan jembatan. “Sisa anggaran sebesar 10 porsen dari pagu bagi pelaksanaan proyek tersebut atau sekitar Rp350 juta sudah kami tahan,” beber Sutami melalui saluran selulernya, Kamis (6/9/2019).

Penahanan terhadap sisa anggaran tersebut apakah karena adanya kasus terkait pembangunan jembatan itu?, Sutamui belum bisa memberikan kepastian. Tetapi, penahanan sisa termin tersebut lebih kepada bahwa piohaknya ingin melihat dulu tentang bagaimana konstruksi pembangunan jembatan itu pula. “Ditengah pihak pelaksana proyek melaksanakan proyek pembangunan jembatan tersebut, saya selaku PPK sudah pernah menegurnya. Namun, teguran tersebut sama sekali tidak diindahkan oleh pihakn pelaksana proyek itu sendiri,” bebernya.

Menjawab pertanyaan tentang apa langkah yang akan diambilnya terhadap kondisi bangunan jembatan tersebut yang terlihat sudah melengkung, Sutami menyatakan akan terus memantau perkembangan selanjutnya. “Konsutruksi pembangunan jembatan tersebut yang sudah melengkung, itu memang benar adanya. Sementara hasil tes laboritrium konstruksi tersebut juga ada ditangan kami. Soal bagaimana hasil laboratoriumnya, nanti kami akan koordinasikan dengan pihak Laboratorium agar kami tidak salah menjawab pertanyaan media massa,” tegas Sutami.

Sutami kemudian menjelaskan, pembangunan konstruksi jembatan dengan beton penancangnya adalah satu kesatuan yang utuh. Namun, kondisi yang terjadi mungkin saja pada saat pengecoran dilaksanakan ada sebuah kondisi yang kurang pas pada saat pemasangan penancang perangkat jembatan.

“Maksudnya, penancang yang yang dipasang itu belum sampai pada tanah yang keras. Yang saya maksudkan adalah disaat pemasangan penancang dari pohon kelapa sebagai penyanggah jembatan. Sekali lagi, mungkin hal itu mengakibatkan konstruksi jembatan tersebut menjadi lengkung,” duganya.

Lagi-lagi ditanya soal apakah lengkungnya konstruksi jembatan tersebut lebih dipicu oleh kualitas material seperti baja yang digunakan sebagai bentangannya, Sutami mengaku belum dapat memastikannya. Pun pihaknya mengaku belum menguji tentang kualitas campuran material yang digunakan untuk pembangunan jembatan tersebut oleh pihak pelaksana proyek.

“Soal bagaimana kualitas pekerjaan proyek jembatan tersebut, tentu saja akan diuji. Jadi, kami belum bisa memberikan keputusan terlalu dini terkait kualitas pelaksanaan proyek itu,” sahutnya.

Pertanyaan terakhir tentang dugaan sebahagian orang bahwa pelaksanaan proyek pembangunan bernilai miliaran rupiah tersebut diduga telah terjadi total los (gagal kostruksi), praktis saja Sutami mengajak Visioner untuk bertemu alias kopi darat (Kopdar). “Atau begini saja, kita Kopdar saja besok. Soal terjadinya penurunan terhadap konstruksi jembatan tersebut, tentu saja akan kita lihat nantinya secara bersama-sama,” harapnya.

Singkatnya, dinilai ada kesan unik terkait pelaksanaan proyek pembangunan jembatan ini. Yakni, sama sekali tidak menggunakan jasa konsultan. Hal tersebut, dikemukakan oleh Sutami. “Ya, Dinas PUPR Kabupate Bima sudah lama tidak menggunakan jasa konsultan pada setiap pelaksanaan pembangunan proyek, termasuk soal pembangunan jembatan yang dikerjakan oleh PT. Citra Putera Laterang itu. Alasannya, sebab di PUPR Kabupaten Bima banyak ASN dibidang teknis. Oleh karenanya, tim perencananya juga dari Dinas PUPR Kabupaten Bima,” pungkasnya.

Nona Ling Sia Menerima Resiko Apapun Jika Ada Masalah Dengan Pembangunan Itu

Dugaan kuat kontruksi jembatan tersebut melengkung mulai terihat secara jelas
Secara terpisah, pemilik PT. Citra Putera Laterang yakni Nona Ling yang dimintai komentarnya melalui saluran selulernya, Jum’at (7/9/2019) mengaku, sesungguhnya tidak ada masalah terkait pembangunan jembatan di Tangga itu. “Tidak ada masalah dengan pelaksanaan proyek pembangunan itu. Namun untuk membuktikan adanya masalah atau tidaknya, nanti kita turun sama-sama ke lapangan,” sahutnya.

Terkait dengan dugaan telah terjadi retak geser pada beberapa titik dari konstruksi jembatan tersebut, Nona Ling justeru membantahnya. “Soal retak geser itu sesungguhnya tidak ada, sebab kemarin kami sudah melihat secara langsung di lapangan. Sekali lagi, tidak ada retak geser seperti yang orang lain duga. Tunjukan dimana retak geser pada konstruksi itu yang anda maksud,” tuturnya.

Tentang kayu penyangga konstruksi jembatan dari pohon kelapa yang digunakannya, katanya sudah dilepas. Dan pihaknya sudah melepas alat berat ke sana untuk melepas pohon kelapa sebagai penyangga jembatan tersebut. Namun ketika dikonfirmasikan kembali melalui SMS, Nona Ling mengaku belum tahu apakah kayu penyangga tersebut sudah dilepas atau belum. Soalnya, sampai saat ini dirinya masih berada di Surabaya-Jawa Timur (Jatim). “Tetapi apakah kayu penyangga tersebut sudah dilepas atau tidaknya, saya belum tahu. Sebab, sampai sekarang saya masih berada di Surabaya,” katanya.

Menjawab pertanyaan bahwa pihaknya diminta oleh PPK untuk menghentikan sementara pekerjaan pembangunan jembatan tersebut karena diduga bermasalah, Nona Ling justeru membantahnya.

“Tidak PPK yang meminta kami untuk menghentikan sementara pelaksanaan proyek pembangunan jembatan itu. Yang ada, justeru kemarin saya dipanggil oleh PPK.  Saat berhadapan dengan PPK kemarin, mereka bertanya apa alasan tidak melepas pohon kelapa sebagai penyangga konstruksi jembatan tersebut. Saya jawab, karena tidak bisa mengajukan termin. Itu alasan yang pertama, alasan kedua bahwa saya harus melepas pohon kelapa tersebut jelas tidak bisa karena tidak ada tenaga. Dan selanjutnya, untuk melepaskan pohon kepala tersebut harus menggunakan alat berat dan harus pula mengeluarkan uang untuk pembebasan lahan-begitu kata saya,” katanya lagi.

Namun jika benar-benar terjadi total los terkait pembangunan proyek tersebut, Nona Ling meminta agar semua pihak mengeceknya kembali. Maksudnya, jika terjadi total los maka pihaknya akan membongkarnya lagi, dan itu dianggapnya tidak ada masalah. “Jika benar total los terkait pelaksanaan proyek pembangunan jembatan itu, tidak masalah kita bongkar sama-sama,” paparnya.

Yang tak kalah menariknya, Nona Ling menegaskan bahwa dirinya tidak pernah takut sedikitpun jika ada pihak-pihak yang ingin menggiring masalah tersebut ke ranah hukum baik pada Kepolisian maupun Kejaksaan. “Silahkan laporkan saya ke lembaga hukum dimaksud jika mampu membuktikan total los terkait pembangunan jembatan tersebut. Sekali saya tegaskan, saya siap menerima resiko dalam bentuk apapun ketika adanya masalah termasuk total los terkait proyek pembangunan jembatan di Tangga,” ujar Nona Ling dengan nada terkesan menantang. (TIM VISIONER)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.