“Ditengah Publik Lupa”, Hadir Sebuah Terobosan Cerdas-Mulia Dari Wartawan Senior

Sarwon: Bambu Solusi Hijaukan Hutan Gundul, Benteng Longsor dan Banjir
 
Sarwon bersama warga sedang melakukan penanaman bambu pada salah satu lokasi (belum lama ini)
Visioner Berita Dompu-Berbicara-berdiskusi soal bambu, sesungguhnya bukan barang tabu bagi publik di Nusantara dan bahkan dunia. Sementara tentang nilai dan manfaatnya, Bambu bukan sekedar pelengkap bangunan rumah, gubuk, kursi, serambi, kursi, pagar, kandang dan sejenisnya. Tetapi, bambu juga punya nilai (harga) ketika diancam menjadi nampan dan sejenisnya, salah satu kelengkapan alat music tradisional hingga salah satu alat yang digunakan sebagai pengganti payung oleh warga pada saat terjadinya hujan maupun dari sengatan matahari panas.

Manfaat dan kegunaan bamu pada konten lainnya, juga dijadikan sebagai rak sepatu oleh masyarakat, dan bagi masyarakat kebanyakan seperti di Bima dan Dompu menjadikan Bambu sebagai benda yang sangat pas untuk memasak nasi lemak (timbu dalam bahasa Bima), serta hasil akhir dari olahan tersebut dicampur dengan tape dari ketan hitam yang tentu saja memiliki kenikmatan dan kekhasan berbeda dari yang lainnya.

Dibalik sejumlah nilai dan manfaat penting dari bambu tersebut, pihak-pihak penting mengakuinya sebagai tumbuhan yang memiliki daya serapa air sangat tinggi. Namun Fakta yang nampak, di era kekinin semakin memperjelas bahwa potensi bambu ini hampir punah di sejumlah daerah termasuk Bima dan Dompu. “Masyarakat hanya bisa menebang-memusnahkan dan menggunakannya” tetapi lupa nilai-nilai dan manfaat penting dari bambu, itulah kesan dan bahkan fakta yang nampak di mata banyak orang.

Masih di arena pasukan Sarwon sedang menanam bambu
Catatan lainnya juga menjelaskan, masyarakat dinilai lupa tentang nilai dan kegunaan bambu sebagai salah satu tumbuhan yang diakui mampu menahan banjir serta sebuah karunia Allah SWT sebagai salah tumbuhan yang dinilai ikut serta menyumbang mata air bagi kehidupan masyarakat. Oleh karenanya, berbagai pihak berharap agar masyarakat di manapun agar mampu menanam kembali pohon bambu sehingga manfaat dan kegunaannya bisa dirasakan seperti sediakala.

Orang-orang boleh saja lupa dan atau enggan berpikir tentang manfaat jangka panjang soal bambu bagi kehidupan bangsa dan negeri ini, tetapi tidak dengan salah seorang Wartawan Senior di NTB yakni Sarwon S.Sos. Ditengah banyak yang ach bahkan lupa soal mengembalikan nilai-nilai penting soal Bambu ini, yakni dia hadir dengan sebuah terobosan yang dinilai mulia mulia sekaligus sebagai salah satu upaya upaya daerah dan masyarakat dari serangan banjir bandang yang seolah menjadi langganan tetap bagi warga Bima dan Dompu.

Dengan harapan, langkah nyata Sarwon ini bisa mengetuk hati nurani semua pihak untuk melakukan hal yang sama baik dari sekarang, esok maupun selanjutnya. “Kita tidak hanya bisa berpikir keras soal Bambu ini. Tetapi, juga mendesak upaya nyata melalui karya faktual karena hasilnya akan dinikmati bersama oleh masyarakat dan daerah khususnya Bima-Dompu,” desak kuli tinta profesional yang dikenal dengan kekuatan investigasi pada kontens kasus dan kriminalitas ini (Sarwon S.Sos).

Sebagai bentuk perhatian serta tanggungjawabnya untuk masa depan negeri dan masyarakat dalam jangka panjang, hadir ide sederhana namun menarik yang dilontarkan Calon Anggota DPRD NTB Periode 2019-2024 dari Dapil 6 (Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima) ini. Yakni, Sarwon menggandeng masyarakat untuk menanam bambu. Langkah nyata ini dilakukan, diakuinya sangatlah penting dan juga dibutuhkan. Sebab, tanaman bambu sangat bagus sebagai solusi dalam penanganan kawasan hutan yang sudah gundul dan hancur di sejumlah wilayah Kabupaten Dompu dan Bima.

"The Special Moment", Sarwon (kiri) bersama Bupati Dompu, H. Bambang
"Saya mengharapkan, gunung-gunung yang sudah gundul di Dompu dan Bima ke depan dapat dihijaukan kembali. Salah satunya, dengan tanaman bambu," kata wartawan senior di NTB yang kini bertarung melalui Partai Hanura Nomor Urut 5 itu.

Tutur Sarwon, bambu cukup ditanam keliling di sela-sela pagar tanah tegalan atau sawah. Bisa juga di sepanjang pinggir sungai dan kali (aliran air). Menariknya, tanaman bambu ini tidak menghabiskan banyak lahan pertanian atau persawahan seperti menanam komoditi lainnya.Dan dengan menanam bambu, menurutnya usaha pertanian/peternakan tidak terganggu, namun gunung kembali hijau dengan bambu. "Cara tanamnya pun sangat mudah," tegas mantan Redaktur Pelaksana (Redpel) Harian Umum Lombok Post serta pendiri dan pimpinan beberapa media, termasuk yang terakhir didirikannya adalah media online Lakeynews.com.

Meski bukan ahli dalam hal ini, namun dia mengungkap manfaat, kegunaan dan fungsi bambu yang lumayan banyak. Secara umum, bambu berguna untuk pagar halaman rumah, pagar lahan pertanian dan perkebunan, lantai rumah panggung/berugak.

"Bagi warga kurang mampu, bambu dapat dianyam menjadi bedek untuk dinding dan plavon rumah," paparnya seraya menambahkan, bambu sejauh ini masih menjadi bahan (bagian) utama untuk pembuatan kandang ternak seperti sapi, kerbau, kambing dan ayam, bahkan bisa jadi sayur (rebung) dan sejumlah manfaat lainnya.

Yang luar biasa, rumpun bambu diyakini mampu menjadi benteng saat terjadi longsor dan banjir. Disamping berfungsi sebagai sumber sekaligus penyangga mata air. "Fakta ini berdasarkan pengalaman dari nenek moyang sejak puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu," cetus Sarwon.

Sawon S.Sos pada sebuah moment pesta pernikahan warga

Hebatnya lagi, sambung dia, bambu kini bernilai ekonomi tinggi. Kalau dulu harganya hanya berkisar Rp.1000 -2000 per batang, namun sekarang harganya mencapai belasan ribu rupiah (ukuran kecil) hingga Rp. 25 ribu per batang (ukuran besar). "Tiap rumpun bambu, jumlahnya mencapai ratusan batang. Hitung saja nilainya jika rata-rata dikali Rp. 25 ribu per batang," tutur pria yang juga ketua Dewan Pakar dan Wakil Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Dompu itu.

Yang fantastis lagi, kata Sarwon, sekali tanam bambu ini dapat dipanen hingga puluhan tahun. Bambu ini masuk kategori tanaman jangka menengah dan panjang. 

Menurut Sarwon, untuk menghijaukan Bima-Dompu dengan tanaman bambu, perlu dibangun kesadaran bersama semua elemen terkait. Dari masyarakat hingga unsur pemerintah, termasuk kepala daerah. Pemerintah daerah diharapkan mengambil peran dalam menggugah masyarakat agar mau menanam bambu ini.

"Memprovokasi petani agar menanam jagung saja, pemerintah bisa dan sukses. Padahal kita ketahui praktik itu telah berakibat pada hancurnya sejumlah kawasan hutan karena (diduga) dibabat untuk lahan pertanian jagung," tegasnya.

Sarwon kembali mengulas dan mempertegas agar potensi bambu dikembalikan oleh semua ihak sepeti zaman dahulu kala. "Nah, mendorong warga agar menanam tanaman, khususnya bambu untuk penghijauan, sumber dan penyangga mata air, benteng longsor dan banjir, saya yakin bisa. Bukan hal yang terlalu berat dan sulit. Apalagi mempunyai nilai ekonomi juga," imbuhnya.

Masih soal bambu, Sarwon mengharapkan kepada pihak terkait agar berpikir keras dan cerdas. Yakni, pengadaan bibit (pembibitan)-nya. Misalnya, tahap awal atau tahap uji coba, bisa dengan mendorong atau meminta warga yang memiliki tanaman bambu untuk menyiapkannya. Lalu pemerintah membayarnya dengan harga yang pantas dan proporsional. Selanjutnya, jika tidak mencukupi, bibitnya bisa didatangkan dari luar daerah.

“Saya percaya dan bahkan sangat yakin bahwa kita butuh keselamatan pada berbagai sisi baik untuk hari esok maupun selanjutnya. Salah satu caranya adalah menanam bambu. Sebab, dampak positifnya bukan saja soal peningkatan ekonomi-kesejahteraan umat. Tetapi, salah satunya dengan menanam bambu berarti kita semua telah ikut menyelamatkan bangsa dan negeri ini dari bencana banjir bandang seperti yang kerap melanda berbabagi daerah di NTB, tak terkecuali Bima dan Dompu. Sekali lagi, dari sekarang mari menanam-Insya Allah esok dan selanjutnya kita semua akan memanen kesejahteraan dan keselamatan,” pintanya. (TIM VISIONER)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.