Header Ads

PT SKP Produsen Minyak Kayu Putih Terbesar Dunia-Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Oi Katupa

Lahan Seluas 300 Hektar Yang Beum Dibagi Diduga Dikuasai Segelintir Orang
Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah (KaosHitam dengan Celana Loreng) Bersama Managemen PT SKP dan Lainya (12/12/2019)
Visioner Berita Kabupaten Bima-PT Sanggaragro Karya Persada (SKP), tercatat sudah beberapa tahun berada di kawasan Desa Oi Katupa Kecamatan Tambora Kabupaten Bima-NTB. Perusahaan ini merupakan salah satu investor terbesar di Indonesia. Perusahaan ini bergerak di bidang minyak kayu putih.

Sejak beberapa tahun silam, perusahaan ini telah menanam pohon kayu putih di atas lahan ribuan hektar di kawasan itu. Kini kayu putih tersebut sudah tumbuh dan berkembang secara pesat. Bahkan, pemanenanya sudah berlangsung lebih dari satu kali. Investasi yang diakui menjanjikan ini, kini telah menghadirkan mesin pengelola (pabrik) minyak kayu putih dan tercatat sebagai yang terbesar di dunia.

Tak tanggung-tanggung, perusahaan ini melakukan investasi senilai Rp 1 triliun guna meningkatkan kapasitas produksi pengolahan daun kayu putih di sana. Peningkatan produksinya pun meningkat tajam, yakni dari sebelumnya 60 ton per hari menjadi 200 ton per hari. Kehadiran investasi berkelas dunia ini, bukan saja memberikan keutnungan bagi investornya.

Tetapi, juga memberikan dampak positif  bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan warga masyarakat  Oi Katupa dan sekitarnya. Hal itu, ditemukan melalui rekrutmen tenaga kerja mulaid ari penanaman, penyiraman, pemeliharaan dan lainya dengan gaji sesuai UMR diakui nyata adanya. Bukan itu saja, Desa Oi Katupa yang sebelumntya sepi kini menjadi ramai. Warung-warung makan dan lainya dis ekitar lokasi PT SKP itu, pun terlihat tumbuh secara berjejeran.

Gubernur NTB (Tengah) Sedang Meninjau Mesin Pengolah Minyak Kayu Putih Milik PT SKP
Dampak lain dari kehadiran investasi ini, juga terlihat melalui adanya warga yang membangun rumah-rumah besar. Dan hadirnya PT SKP ini, juga diakui membantu masyarakat seempat melalui Comunity Development (Comdev). Beberapa tahun silam, Bupati-Wakil Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE (Dinda)-Drs. H. Dahlan M. Noer (Dahlan) bersama Pangdam X/Udayana melakukan peresmian perdana penanaman kayu putih tersebut di Desa Oi Katupa Kecamatan Tambora ini.

Saat itu Dinda-Dahlan berpesan agar masyarakat berpesan kepada masyarakat khususnya di kecamatan Tambora dan pada umumnya di Kabupaten Bima bisa menciptakan kenyamanan dan keamanan bagi iklim investasi. Sebab, kehadiran ivestor termasuk PT. SKP mampu emmberi dampak positif bagi kesejahteraan dan kemasalahan warga khususnya di Desa Oi Katupa dan sekitarnya. Salah satunya yakni melalui rekrutmen tenaga kerja sebagai salah satu upaya membantu Pemerintah dalam mengikis angka pengangguran di Kabupaten Bima.

Seiring dengan jalan perjalan waktu, beberapa hari lalu (12/12/2019) Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah beserta rombonganya di PT SKP. Kehadiran orang nomor satu di NTB ini adalah melakukan pemanenan perdana kayu putih yang akan diolah menjadi minyak kayu putih dan siap dipasarkan. Tak hanya itu, pada moment tersebur Gubernur yang kenal ramah pintar, komunikatif, supel dan cerdas ini juga melihat secara langsung proses pembuatan mulai dari pemanan hingga menjadi minyak kayu putih.

Saat itu pula Dr. Zul menyatakan, sekarang industrialisasi itu bukan sekedar mimpi. Tetapi nyata adanya, dan Insya Allah akan kita deklarasikan bahwa NTB merupakan sentral minyak kayu di Nusantara dan bahkan terbesar di dunia. Dr. Zul kemudian menjelaskan, soal industialisasi bukan semudah membalikan telapak tangan. Namun atas kehadiran PT SKP ini, tentu saja akan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat.

Inilah daun Kayu Putih Yang Siap Diolah Menjadi Minyak Kayu Putih Milik PT SKP
“Hadirnya PT SKP ini tentu saja mampu memberikan manfaat bagi lahan-lahan kosong di sini yang selama ini tidak dimanfaatkan. “Kalau semua tanaman kayu putih ini tumbuh dan berkembang secara bagus, kita memelihanya hanya 2 tahun. Namun dalam 25 tahun kedepan, tentu saja kita akan bisa memetik hasilnya,” terang Dr. Zul.

Dr. Zul menegaskan, hadiranya industri kayu putih ini tentu saja akan menjamin kesejahteraan masyarakat khususnya di Desa Oi Katupa dan sekitarnya. Dengan demikian, jika masyarakat sudah sejahtera maka tentu saja jaminan kesejahatan dan pendidikan akan terus meningkat. “Untuk itu, kehadiran investasi ini harus kita dukung penuh,” imbuhnya.

Catatan penting Visioner mengungkap, Dr. Zul dan rombonganya sempat menginap satu malam di PT SKP. Tujuan lain Dr. Zul hadir di kawasan PT SK tersebut, pun merencanakan akan membangun sekolah khusus di lokasi perusahaan itu. Hal tersebut, diakuinya untuk menjamin Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan mendukungan keberlangsungan pabrik minyak ayu putih tersebut sekaligus untuk memberdayakan masyaraat lokal sehingga tidak lagi mengambil tenaga kerja dari luarnya.

Sementara itu, Direktur Operasional PT SKP Trianda Meliala menjelaskan bahwa pabrik minyak kayu putih terebut tersebut tersebut telah dilengkapi dengan mesin penyulingan yang modern. Dampak dari kehadiran mesin tersebut, diakuinya mampu meningkatkan kapasitas produksi minyak kayu putih. PT SKP berinvestasi sebesar Rp 1 triliun, nilai tersebut lebih kepada meningkatkan kapasitas produksi pengolahan daun minyak kayu putih. Jika sebelumnya produksi pengolahan minyak kayu putih hanya 60 per hari, namun kini (2019) praktis meningkat menjadi 200 ton sehari,” terang Tri.

Tri kemudian mengutarakan, kebutuhan produksi minyak kayu putih di dunia saat ini sekitar 5000 ton pertahun. Sementara di Indonesia hanya mampu memproduksi sekitar 450-500 ton pertahun. Pun Tri mengakui, kehadiran PT SKP ini memperkirakan bahwa perusahaan ini akan mampu mengembalikan modal investasi setelah delapan tahun kedepan. “Hasil minyak kayu putih asli yang diproduksi oleh PT SKP ini juga akan diolah menjadi beberapa jenis produk seperti bahan kosmetik, bahan farmasu, aroma terapi dan lainya,” urainya.

Mesin Modern Penyuling Minyak Kayu Putih Milik PT SK
Tri menyatakan, pihaknya juga sebagai pemasok kebutuhan minyak kayu putih cap Elang dan kepada Suplier lain di Surabaya-Jawa Timur (Jatim). Namun diakuinya, jika menggunakan merek sendiri tentu saja PT SKP akan memberi nama “Gunung Tambora”.  “Saat ini PT SKP merupakan Perusahaan swasta satu-satunya sebagai produsen minyak kayu putih yang menyiapkan lahan tanam seluas 5.000 hektar. Status lahan ini adalah Hak Guna Usaha (HGU). Dan di atas lahan inidigunakan menanam 25 juta pohon kayu putih,” ucap Tri.

Dampak positif bagi kehadira PT SKP ini, juga diakui oleh Asisten II Pemprov NTB yakni Ridwan Syah. Salah satunya, PT SKP mempu meyerap sebanyak 600 tenaga kerja. Ridwan menandaskan, semula lahan HGU milik PT SKP adalah lahan kritis yang didominasi oleh bebatuan di kaki gunung Tambora pada bagian selatanya. “Namun di atas lahan ini bisa tumbuh dan berkembang kayu putih. salah satu jenis yang dihasilkan kayu putih ini ialah minyak Atsiri. Minyak kayu putih masuk kedalam jenis minyak atsiri bersama minyak cengkeh, minyak pala dan minyak sereh,” pungkas pria kelahiran Kabupaten Dompu yang akrab disapa Dae Weo ini.

Catata penting lain Visioner megungkap, bebrapa tahun silam telah terjadi kesepakatan antara PT SKP dengan warga Oi Katupa. Bentuknya, menyerahkan lahan seluas 300 hektar untuk masyarakat setelah. Kesepakatan tersebut bersifat resmi karena disaksikan oleh Pemkab Bima dan telah diperkuat dengan berita acara resmi. Dalam berita acara tersebut, tertulis adanya perjanjian bahwa Pemerintah akan membagikan lahan tersebut kepada warga Oi Katupa.

Namun sampai dengan detik ini, diduga kuat lahan tersebut belum dibagi kepada masyarakat. Kecuali, lahan seluas 300 hektar tersebut diduga kuat hanya dikuasai oleh segelintir oknum. Oleh karenanya, banyak pihak khususnya warga di Oi Katupa mendesak agar pihak Pemkab Bima segera turun tangan membagikan lahan tersebut secara adil kepada masyarakat Katupa sesuai peruntukanya. (TIM VISIONER).

No comments

Powered by Blogger.