Header Ads

Kisah Si Miskin Arif Setiawan Ditabrak Hingga Sempat Koma Sebulan Lebih Yang Jauh Dari Perhatian

Ia Masih Hidup Tapi Cacat Setengah Permanen dan Berhasil Bertemu IDP


                     Inilah Arif Setiawan (Kanan) Bersama Kakak Iparnya, Abd. Rahman

Visioner Berita Kabupaten Bima-Rabu sore sekitar pukul 16.30 Wita, Kota Bima diguyur hujan deras. Di tengah derasnya hujan, dengan tanpa sengaja Visioner menemukan seorang bocah kelas VI SDN Inpres di Dusun Rimba Desa Karumbu Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima, Arif Setiawan (12). Saat itu, dia ditemani oleh kakak iparnya yakni Abd. Rahman dan sedang duduk di pos jaga bagian depan Pandopo Bupati Bima. Arif dan Rahman bertujuan untuk bertemu dengan Bupati Bima.

Ditangan bocah berstatus anak Yatim dan Ibu kandungnya sedang didera oleh penyakit lumpuh ini, Visioner menemukan beberapa map berwarna merah. Untuk meretas rasa penasaran, akhirnya Visioner pun bertanya. “Map itu berisi apa?.

“Ini surat permohonan bantuan yang sudah ditandatangani oleh Kades, Camat dan Instansi terkait untuk diberikan kepada Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE (IDP). Kami baru pulang dari Kantor Baznas Kabupaten Bima dan di sana diberikan bantuan sebesar Rp300 ribu kepada saya,” tandas bocah juara IV di kelasnya ini.

Rasa penasaran Visioner pun belum berakhir sampai di situ. Tentang permohonan bantuan atas alasan apa, akhirnya diceritakan secara gamblang oleh Arif bersama kakak iparnya tersebut. “Permohonan bantuan biaya sekolah, dan bantuan biaya untuk ibu saya yang sedang mengalami sakit lumpuh,” ungkapnya.

Pada moment tersebut pula, terkuak kisah tragis yang dialmi Arif pada tahun 2011. Ia mengaku, saat itu ditabrak oleh seorang pengendara sepeda motor hingga terkapar beberapa meter dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) di dusun Rimba.

Peristiwa tragis itu praktis saja berakibat fatal bagi bocah miskin ini. Maksudnya, ia sempat koma selama lebih dari sebulan di RSUD Bima. Namun, nyawanya berhasil diselamatkan atas penanganan secara intensif oleh Tim Medis RSUD Bima.

“Iya, Alhamdulillah saya masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah SWT. Biaya RSUD selama sebulan lebih di RSUD Bima ditanggung sendiri oleh kami, bukan dari siapapun dan bukan pula dari BPJS. Sementara santunan dari dari pelaku yang menabrak saya itu hanya Rp1 juta. Yang bersangkutanpun sempat diproses dan ditahan oleh Polisi,” bebernya.

Kendati masih hidup sampai sekarang, namun cacat pada bagian kepala, tangan bagian kanan, dan kaki bagian kananya belum bisa disembuhkan secara total. Tim Medis RSUD Bima memvonisnya mengalami cacat setengah permanen. Pernah menerima santunan dari pihak Jasa Raharja?.

“Tidak pernah, Pak. Karena saat itu tidak ada yang mengurus Jasa Raharja. Namun, berbagai pihak di sana tahu tentang kecelakaan yang menimpa saya,” tandas Arif.  

Arif kemudian yang ditemani kaka iparnya itu kemudian menerangkan jenis bantuan apa saja yang diberikan oleh Pemerintah baik kepada dirinya maupun ibu kandungnya yang sampai sekarang masih tidur di rumah karena mengalami sakit lumpuh. “Hanya batuan dari PKH saja yang kami terima, yakni dalam bentuk Sembako. Selain itu tidak ada, pak,” ucap Arif.

Yang tak kalah menariknya lagi, biaya pendidikanya diakuinya ditanggung sendiri. Sementara bantuan berupa beasiswa miskin yang lazim berlaku di dunia pendidikan pun diakuinya tidak pernah diterimanya.

“Untuk menyambung hidup termasuk biaya sekolah, hanya mengandalkan uang kiriman dari kakak saya yang bekerja sebagai TKW di Hongkong. Sekali lagi, sampai sekarang saya masih membayar biaya pendidikan. Beasiswa miskin, sejak awal sampai sekarang tidak pernah diberlakukan kepada saya,” ulas anak bungsu dari 10 bersaudara ini.

Kendati dalam kondisi cacat setengah permanen, ternyata ada kisah nyata sangat menarik dari Arif ini. Demi menyambung hidup, ia mengaku bisa mencari uang ala kadarnya. “Saya sering mencari kelapa tua yang jatuh dari pohonya. Kelapa yang saya temukan di bawah pohonya, tentu saja saya jual untuk kebutuhan belanja dan lainya,” terang Arif.

Bukan itu saja, untuk menyambung hidup sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari-sampai sekarang Arif mengaku masih mengikuti para nelayan yang mencari ikan di perairan Langgudu. “Sampai sekarang saya masih mengikuti para nelayan yang mencari ikan di perairan Langgudu. Berangkat sore, pulang pagi. Hasil yangsaya dapatkan dari para nelayan itu tak banyak. Yakni rata-rata Rp20 ribu sehari,” sebut Arif.

Sore itu hujan curah hujan kian deras.Pada moment tersebut, Arif sempat bangun dan memperlihatkan kepada sejumlah orang tentang sejumlah bekas lukanya akibat tabrakan itu. Iapun sempat jalan, namun terlihat tidak senormal rekan-rekan yang lainya. Kondisi memprihatikan itu, praktis saja berhasil mengundang perhatian dari sejumlah orang yang bertedung di pos jaga di depan Pandopo Bupati Bima.

Ketua Partai Demokrat Kabupaten Bima, Imam Suhadi SH, Yuda Sulistiyo dan Abdul Let pun sempat merogok uang di kantungnya dan kemudian diserahkan kepada Arif. Arif pun menerimanya sembari mengucapkan terimakasih. “Terimakasih,” ucapnya sengan nada lembut.

Singkatnya, Arif bersama kaka iparnya itu hadir di Pandopo Bupati Bima tak lebih dari ingin meminta bantuan baik bagi idirnya maupun ibu kandungnya yang sampai sekarang masih tergelatk di tempat tidur akibat sakit lumpuh. “Tujuanya hanya itu, semoga IDP bisa membantu kami,” pungkas Arif.

Singkatnya, harapan Arif bersama kakak iparnya ini untuk bertemu langsung dengan Bupati Bima, IDP pun akhirnya berhasil. Ba’da Sholat Maghrib, Arif bersama kakak iparnya tersebut diterima dengan sangat baik oleh IDP di ruang tamu di Pandopo.

“Oh ini ya anakda Arif, terimakasih sudah hadir menemui saya di rumah ini. Dan semoga Anakda Arif tetap sehat walafiat, dan tetap melanjutkan sekolahnya,” harap IDP.

Pertemuan antara Arif dan kakak iparnya itu dengan IDP pada moment tersebut tak berlangsung lama. Tentang harapan Arif agar dibantu, pun akhirnya mendapat angin segar dari Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bima sekaligus Bupati terpilih pada Pilkada Kabupaten Bima periode 2020-2025 ini.

“Terimakasih telah hadir di Pandopo ini. Dan terimakasih telah menjelaskan semuanya tentang Arif dan sakit yang dialmi oleh ibu kandungnya. Kondisi tersebut, tentu saja Pemerintah tak tinggal diam. Maksudnya, Insya Allah akan tetap dibantu. Untuk itu, Insya Allah dalam waktu segera saya akan memerintahkan kepada Instansi terkait untuk mengecek secara langsung kondisi kehidupan Arif dan ibu kandung di sana,” ujar Politisi tangguh yang dikenal sangat baik, ramah, santun, murah senyum, pintar, cerdas dan diakui kaya akan kesolehan sosial ini (IDP, Red).

Atas kondisi yang dialmi Arif, IDP kemudian menyatakan rasa syukurnya kepada Allah dan apresiatif serta berterimakasih kepada Tim Medis RSUD Bima karena telah berhasil menyelamatkan Arif hingga detik ini masih bisa berbicara secara normal, dan masih pula bisa tersenyum kepada semua orang.

“Soal bantuan dari Jasa Raharja untuk Arif, tentu saja akan ia dapatkan jika dari awal ada yang mengurusnya. Kalau tidak ada yang mengurusnya sejak awal, tentu saja Arif tidak bisa mendapatkan santunan dari pihak Jasa Raharja. Untuk itu, anakda Arif beserta keluarganya harus bersabar. Sekali lagi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima tentunya tak akan tinggal diam atas kondisi ini,” pungkas IDP. 

Usai bertemu dengan IDP, kakak ipar Arif yakni Abd, Rahman kemudian menyatakan apresiasi, bangga dan terimakasih kepada IDP. Ucapan yang sama, juga disampaikanya kepada Visioner karena telah memfasilitas ipertemuan antara Arif dengan IDP. Dan kepulangan Arif, tentu saja bukan dengan tangan hampa. Tetapi, ada sedikit ole-ole dari IDP.

"Terimakasih tak terhingga kami sampaikan kepada IDP karena telah menyambhut kehadiran Arif dengan sangat baik di Pandopo ini. Teriring doa dan harapan, semoga Allah memberikan umur panjang, nikmat sehat, dan sukses selalu kepada IDP beserta keluarga. Ucapan yang sama, juga kami sampaikan kepada Media Online Visioner karena telah menyempatkan diri menfasilitasi pertemuan antara Arif dengan IDP," papar Abd. Rahman dengan nada singkat. (TIM VISIONER)     

No comments

Powered by Blogger.