Header Ads

Ayah Kandung Korban Masih Dirundung Kesedihan Mendalam, Desak APH Agar ARS Dihukum Berat

ILUSTRASI, Dok.Foto: google.com

Visioner Berita Kota Bima-Dugaan tindakan biadab yang dilakukan oleh oknum Mahasiswa pada salah satu PTS di Kota Bima berinisial ARS terhadap Balita berumur 5 tahun di salah satu Kelurahan di wilayah Kecamatan Mpunda-Kota Bima beberapa waktu lalu, hingga kini masih menjadi buah bibir publik, terutama di beranda Media Sosial (Medsos). Dan bahkan sampai saat ini, beragam kecaman dari berbagai pihak terhadap ARS terpantau masih saja berlangsung.

Kemarahan publik dalam kaitan itu, bukan tanpa alasan. Pasalnya, oknum Mahasiswa yang dijelaskan sering ikut dalam aksi demonstrasi tersebut diduga tega melakukan tindakan tak manusiawi terhadap korban yang diakui masih balita. Tak hanya itu, publik pun semakin marah ketika mendengar bahwa antara ARS dengan korban berstatus sebagai keluarga dekat.

Lebih jelasnya, dijelaskan bahwa nenek korban dengan neneknya ARS adalah saudara kandung. Senin malam (6/6/2022), Media Online www.visionerbima.com mendatangi rumah korban. Pada malam itu, Media ini disambut baik oleh ayah kandung korban dan keluarganya. Pada moment tersebut, nampak jelas kesedihan pada wajah ayah kandung korban, uanya korban dan neneknya.

“Atas kejadian yang menimpa korban, tentu saja kami semua merasa, terpukul dan hati ini seperti teriris pisau belati. Sebab, dia begitu tega melukai korban dengan cara tak manusiawi. Padahal antara neneknya ARS dengan korban adalah bersaudara (saudara kandung),” ungkap ayah kandung korban sembari mengusap air matanya.

Ia mengaku menampung ARS untuk tinggal bersama dengan pihaknya di rumah itu karena keluarga. Namun sebelumnya, ARS pernah tinggal di tempat lain.

“Sebagai keluarga, saya harus menampungnya. Harapannya, agar dia bisa menjaga adik-adiknya di rumah ini. Namun kenyataanya, justeru ia tega berbuat biadap terhadap korban. Demi Allah dan Demi Rasulullah, kami tidak menyangka dia melakukan hal tak senonoh itu kepada adiknya (korban),” keluhnya.

Ia mengaku mengetahui terjadinya peristiwa itu setelah mendapat telephone dari bibinya korban. Melalui saluran seluler itu, bibi kandung korban memintanya agar segera pulang ke rumah. Dan melalui saluran seluler itu pula, bibi kandung korban menceritakan tentang kejadian yang menimpa korban.

“Saat itu saya masih bekerja di Pelabuhan Bima. Begitu mendengar cerita bibinya korban melalui saluran seluler tersebut, saya sontak kaget dan tak lama kemudian saya pulang ke rumah. Tiba di rumah, saya melihat ARS sedang berada di dalam kamar tidurnya. Tak lama kemudian saya sempat bertanya kenapa dia tega melakukan hal itu kepada adiknya. Diapun sempat membantahnya, selanjutnya saya memukulnya dan kemudian dia lari keluar dari rumah ini,” ungkapnya.

Dari informasi yang diperolehnya, sebelum kejadian berlangsung korban sedang bermain-main dengan teman-temanya di rumah tetangga yang berlokasi di sebelah barat rumah korban. Disaat korban sedang asiknya bermain katanya, tiba-tiba dipanggil oleh ARS dan korban dibawa masuk ke dalam kamar itu.

“Di dalam kamar yang tak jauh dari pintu masuk bagian depan rumah ini, korban diperlakukan secara tak manusiawi oleh ARS. Tak lama kemudian, korban kemudian menceritakan kasus yang menimpanya kepada bibinya,” bebernya.

Ayah kandung korban kembali menunjukan kesedihanya, mengusap air mata kemudian bercerita. Korban ditinggal mati oleh ibu kandungnya di saat berumur sekitar satu tahun lebih. Korban merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. Tiga diantaranya sudah menikah. Sementara kakak dari korban kini masih sekolah di salah satu SDN di Kota Bima.

“Yang masih tinggal bersama saya di rumah ini ini adalah korban dengan kakak kandungnya yang kini sedang duduk dibangku Kelas I SD. Sementara masih duduk di bangku TK Kelas A. Sejak kejadian itu menimpanya hingga saat ini, korban masih bisa bermain-main dengan teman-temanya. Dan kini tak lagi terlihat kesedihan di wajahnya. Sungguh jiwa korban ini masih terlihat sangat kuat,” tandasnya.

Atas hal itu, ia mengaku sangat bersyukur kepada Allah SWT. Namun demikian, kejadian yang menimpa korban hingga kini belum mampu menghapus kesedihan, kekecewaan dan kemarahannya kepada ARS.

“Adalah hal yang sangat sulit bagi kami sekeluarga untuk memaafkanya. Dari kasus yang menimpa korban ini, saya dan keluarga meminta kepada Aparat Penegak Hukum (APH) untuk menghukum ARS dengan seberat-beratnya. Sebab, tindakan biadab yang bersangkutan telah menciderai nasib, masa depan dan keberlangsungan hidup korban. Dan peristiwa ini merupakan sejarah panjang yang tidak bisa dihilangkan secara sederhana dalam diri korban ini sendiri. Ini hal itu pula, juga menjadi kesedihan terpanjang dalam hidup kami dan keluarga ini,” tuturnya sembari mengusap air matanya.

Pada moment yang berlangsung sekitar 1 jam lebih bersama Media ini, ayah kandung kemudian menceritakan sesuatu yang sangat menarik. Yakni kendati isterinya sudah meninggal dunia, namun hingga sekarang belum terbesit keinginan untuk menikah lagi. Padahal, umur ayah kandung korban ini masih tergolong muda.

“Sejak ibu kandung mereka meninggal dunia, sampai saat ini saya belum memiliki keinginan untuk menikah lagi. Hal itu demi anak kandung saya dua orang ini yang masih sangat kecil. Saya ingin memanfaatkan fakta untuk bekerja di Pelabuhan Bima untuk menafkahi dan membesarkan kedua anak saya ini. Setelah peristiwa pahit itu terjadi, saya berharap korban bisa tumbuh dan berkembang, dewasa dan ke depan bisa menjadi anak yang baik buat keluarga dan bahkan orang lain. Semoga Allah SWT bisa mengijabah doa dan harapan saya ini,” harapnya.

Sejak peristiwa pahit yang dialami korban hingga saat ini, ayah kandung korban mengaku tak pernah dihubungi oleh kedua orang tuanya ARS baik secara langsung maupun melalui saluran seluler. Namun beberapa hari lalu, ayah kandung korban mendapat cerita tentang kehadiran orang tuanya ARS di rumahnya.

“Kedatangan yang bersangkutan di sini saat itu, saya kebetulan tidak ada di rumah. Maksudnya, saat itu saya sedang bekerja di Pelabuhan Bima. Tetangga saya bercerita, saat itu orang tua ARS sempat memeluk korban dan menyatakan kemarahan atas tindakan bejat ARS terhadap korban. Pada hari itu pula orang tua ARS pulang kembali ke Dompu. Dan sampai saat ini orang tua ARS tak datang lagi di rumah ini,” papar ayah kandung korban.

Ayah kandung korban kemudian bercerita, beberapa saat setelah melaporkan kasus ini secara resmi ke Mapolres Bima Kota-korban dibawa ke RSUD Bima untuk dilakukan visum. Saat korban di visum, ia mengaku ikut menyaksikanya.

“Pada saat divisum, saya sempat meminta izin kepada Tim Medis RSUD Bima untuk mendokumentasikan (memfoto) korban. Namun hal itu dilarang oleh Tim Medis. Kecuali, Tim Medis hanya membolehkan saya untuk menyaksikan saat korban divisum. Sayapun tahu hasil visumnya, namun tidak boleh saya beberkan kepada Media Massa,” terangnya.

Di akhir pertemuan dengan Media ini, ayah kandung korban kemudian menyatakan apresiasi, terimakasih, bangga dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Kapolres Bima Kota, AKBP Henry Novika Chandra, S.IK, MH karena telah membuktikan keseriusannya dalam menangani kasus ini. Pernyataan yang sama juga disampaikannya kepada para pegiat (PUSPA, LPA, Pekos Anak, Relawan Anak, Ahli Psikologi), Media Massa dan pihak UPTD Anak Kota Bima yang sejak awal hingga saat ini masih sangat konsisten mendampingi korban.

“Terimakasih atas kebaikan hati serta perjuangan keras semua pihak terkait kasus ini. Mohon agar penanganan kasus ini terus dikontrol dan diawasi secara ketat mulai dari Polres Bima Kota hingga mendapatkan kepastian hukum yang tetap dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Raba-Bima. Dan diharapkan agar kasus yang sama tak lagi terjadi di kemudian hari,” harapnya.

Berangkat dari kasus ini, ia berjanji bahwa untuk ke depannya akan lebih intens bersama kedua putrinya yang masih kecil ini (korban dan kakak kandungnya yang masih duduk di bangku Kelas I SD). Ia ia juga berjanji tidak akan mengurangi rasa cinta dan kasih sayang terhadap kedua putrinya yang masih kecil tersebut.

“Sejak ibu kandung mereka meninggal dunia, saya bukan saja bertindak sebagai ayah kandung dari mereka. Tetapi saya juga merangkap sebagai ibu kandung dari mereka. Saya sangat mencintai, menyayangi dan mengasihi mereka. Dan saya bekerja dari pagi hingga malam hari di Pelabuhan Bima, semuanya demi mereka baik hari ini maupun untuk selanjutnya,” jelas ayah kandung korban ini.

Singkatnya, kisah nyata yang menimpa korban merupakan peristiwa perdana dan diharapkan menjadi yang terakhir di sepanjang hidupnya serta keluarganya. Dari kasus ini, ia kemudian meminta kepada semua pihak agar menjadikan peristiwa pahit yang menimpa korban tersebut sebagai pelajaran yang sangat berharga.

“Fari peristiwa pahit ini, kami hanya bisa berharap kepada semua pihak agar lebih berhati-hati dan mawas diri. Dan semoga ke depan tak akan ada lagi korban yang sama. Melalui kesempatan ini pula, secara jujur kami menyatakan belum bisa memaafkan ARS. Tetapi, kami berharap agar APH menghukum ARS dengan seberat-beratnya. Dan hanya itu hadiah yang sangat pantas untuk ARS,” pungkasnya. (TIM VISIONER) 

No comments

Powered by Blogger.