Menakar Keteguhan
Prinsip Iqbal-Dinda
Oleh: Darwis AB
Bagi mayoritas kepala daerah, memprioritaskan kepentingan tim sukses, penyokong dana, dan barisan pendukung adalah sebuah kelaziman, bahkan sering dianggap sebagai hukum tidak tertulis yang wajib ditunaikan terlebih dahulu.
Namun, di bawah kepemimpinan Iqbal-Dinda di Nusa Tenggara Barat (NTB), arah angin politik itu berbalik arah secara ekstrem.
Mereka memilih jalur yang sunyi dari sanjungan elite, namun bising oleh doa-doa masyarakat kecil :
Memprioritaskan
program pro-rakyat di atas pemenuhan syahwat politik para tim sukses. Realitas
Pahit APBD dan Godaan Proyek Penunjukan Langsung.
Tahun 2026 bukanlah masa yang mudah bagi fiskal NTB. Ruang gerak anggaran sangat terbatas.
Alokasi
dana belanja yang fleksibel dalam APBD Provinsi NTB tercatat sangat minim,
hanya berkisar 3,4% dari total postur anggaran akibat penyesuaian makro.
Situasi ini kian diperberat dengan kebijakan pemotongan dana transfer dari Pemerintah Pusat lebih Kurang sebesar Rp 1 Triliun-sebuah badai finansial yang sama sekali tidak dapat diprediksi saat masa kampanye Pilkada 2024 lalu.
Dalam kondisi terjepit seperti ini, mayoritas kepala daerah biasanya akan mengambil jalan pintas yang aman secara politik: mengonversi sisa anggaran yang ada menjadi paket-paket proyek Penunjukan Langsung (PL).
Jika Iqbal-Dinda memilih bersikap pragmatis, dana stimulan sebesar Rp 128 hingga Rp 180 Miliar yang mereka miliki bisa dengan mudah dipecah menjadi sekitar 900 paket proyek Penunjukan Langsung, dengan nilai rata-rata Rp 200 Juta per paket.
Sembilan ratus paket proyek tersebut sudah lebih dari cukup untuk memuaskan dahaga balas budi kepada para pejuang politik, mengamankan loyalitas elite, dan menciptakan zona nyaman bagi lingkaran dalam kekuasaan.
Memilih Rakyat : Membakar Jembatan Pragmatisme
Alih-alih memanjakan tim sukses dengan kue proyek APBD, Iqbal-Dinda mengambil keputusan berani yang menghentak konvensi politik lokal. Mereka memilih untuk langsung menyentuh akar rumput di tingkat desa yang selama ini luput dari perputaran modal.
Melalui kebijakan yang berpihak, anggaran ratusan miliar tersebut dialihkan penuh untuk membiayai program monumental :
Bantuan Langsung Dana Desa: Sebesar Rp 300 juta hingga Rp 500 juta per desa, yang pada tahap awal ini langsung dikucurkan ke 256 desa di NTB. Program ini ditargetkan menyentuh seluruh 1.166 desa se-NTB secara bertahap.
Bantuan Modal Usaha Produktif: Intervensi ekonomi yang menyasar langsung kepada Kepala Keluarga terdampak kemiskinan ekstrem di 106 desa di seluruh wilayah NTB Rp.7 Juta/Kepala Keluarga.
Ini bukan sekadar pembagian bantuan, melainkan sebuah ikhtiar sistematis untuk menggerakkan ekonomi dari bawah, menghidupkan pasar-pasar desa, dan memberikan jaring pengaman bagi mereka yang paling rentan.
Ketangguhan Jiwa Pejuang : Loyalitas Tanpa Pamrih untuk NTB Makmur Mendunia
Di
sinilah letak keajaiban politik Iqbal-Dinda. Keputusan untuk memangkas jatah
proyek bagi tim sukses ternyata tidak melahirkan perpecahan atau kepahitan
massal.
Sebaliknya, mayoritas para pejuang, relawan, dan pendukung militan Iqbal-Dinda justru menunjukkan kedewasaan politik yang luar biasa.
Mereka Tidak Merasa Dikhianati ; Mereka Justru Merasa Bangga.
Bahwa
ada satu dua personal yang merasa kepentingannya belum terakomodir, itu adalah
dinamika kemanusiaan yang sangat wajar. Namun secara makro, barisan pendukung
tetap teguh berdiri mengawal kepemimpinan ini. Mengapa?
Karena sejak awal, niat dasar yang mempertemukan mereka bukanlah transaksi proyek, melainkan sebuah visi besar : Membentuk NTB yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Para
pejuang politik Iqbal-Dinda memahami bahwa mewujudkan janji kampanye di tengah
pemangkasan anggaran Rp 1 Triliun memerlukan pengorbanan besar.
Dan
mereka memilih untuk menjadi bagian dari pengorbanan itu demi melihat senyum
para petani, nelayan, dan masyarakat miskin di pelosok desa.
Sinergi Menuju Gerbang Wisata dan Ketahanan Pangan
Kini,
kebersamaan antara pemimpin dan para pejuangnya bertransformasi menjadi energi
pembangunan yang positif. Segala kebijakan yang bertumpu pada kepentingan
rakyat langsung diaminkan dan didukung penuh.
Sinergitas ini menjadi modal sosial terbesar bagi Iqbal-Dinda untuk menghentikan laju kemiskinan, memperkuat fondasi ketahanan pangan daerah, dan memoles destinasi wisata NTB agar benar-benar siap menjadi gerbang pariwisata dunia di Indonesia.
Iqbal-Dinda telah membuktikan bahwa loyalitas tertinggi seorang pemimpin bukanlah kepada mereka yang membantunya naik ke kursi kekuasaan, melainkan kepada rakyat yang menaruh harapan di pundak kekuasaan tersebut. Inilah standar baru kepemimpinan yang berwibawa : Tegas pada prinsip, berani dalam berpihak, dan tulus dalam mengabdi.
