Header Ads

Tokoh Wanita Hebat Bersentuhan Mesra Dengan “Mereka Yang Terlupakan”

Abubakar: Hibahkan Tanah ini ke Kami, dan biarkan kami hidup-mati di sini...!!!

Pada sebuah perkampungan yang terletak di sebelah barat kantor KPUD Kabupaten Bima yang berada di Desa Panda Kecamatan Belo, terdapat perkampungan kecial yang dihuni oleh puluhan manusia. Fakta-fakta tak terbantah seolah mendesak terbukanya mata hati, pikiran dan langkah-langkah kemanusiaan di sana. Maksudnya ada penderitaan, air mata dan sebuah kondisi miris yang mendesak terketuknya makna kata hati manusia sebagai mahluk sosial atas nama sesama di sana. Berikut catatan pentingnya, masih adakah air mata?.

Foto Bersama BDRG (tujung dari kiri) bersama "Mereka Yang Terlupakan" (22/2/2018)
Visioner Berita Bima-Nama Hj. Baiq Diyah  Ratu Geneti, SH, MH (BDRG) tidaklah asing bagi negeri ini. Ia adalah anggota DPD RI Dapil NTB yang dikenal cerdas, pintar, kritis, mantan Advokat ternama di NTB, sekat dengan semua kalangan termasuk Wartawan. Salah seorang Tokoh wanita hebat di NTB ini yang juga berkecimpung di sejumlah lembaga termasuk Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia (IWAPI) ini, Kamis (22/2/2018) hadir di Bima untuk mengikuti sejumlah kegiatan penting, baik sosialisasi soal Tupoksinya sebagai anggota DPD RI maupun kegiatan sosial lainnya.

Sekitar pukul 9.30 Wita, BRDG leanding di Bandar Udara (Bandara) Sultan Muhammad Salahuddin Bima. Beberapa saat kemudian, BDRG melakukan makan siang bersama dengan sejumlah awak media. Dipenghujung acara makan siang penuh santai, sontak saja BDRG menanyakan sesuatu. “Hari ini saya mengikuti kegiatan penting di Kota Bima termasuk acara IWAPI Kota dan Kabupaten Bima. Sebelum mengikuti kegiatan tersebut, enaknya kita melakukan kegiatan apa ya kawan-kawan Wartawan,” tanyanya.

Pertanyaan tersebut, sontak dijawab oleh Visioner. “Maaf Bu Aji, mungkin sebelum ke Kota Bima kita mencoba mampir di perkampungan Kusta yang ada di Desa Panda-Kabupaten Bima yang lokasinya di sebelah barat kantor KPUD setempat. Sebab, disana terdapat puluhan warga sekaligus penderita Kusta yang sudah normal, namun terkesan minim sentuhan. Ketika Bu Aji mampir ke sana, Insya Allah ada berkahnya,” usul Visioner.  

Usulan tersebut, langsung saja diresponnya dengan baik. “Nah itu bagus, saya juga sempat membaca berita Visioner tentang itu. Saya juga ingin melihat langsung tentang bagaimana kondisinya dan apa kira-kira harapan besarnya yang mungkin bisa kita tindaklanjuti,” papar BDRG.

Singkatnya, setibanya di perkampungan yang dihuni oleh puluhan warga “yang terlupakan” tersebut, BDRG dengan crew Media Massa langsung menjambangi mereka. Namun sebelumnya, Visioner bersama Pimpina Redaksi Media Online aktualita.info Lalu Tudiansyah terlebih dahulu memberi kabar kepada puluhan warga dimaksud untuk siap-siap menyambut kehadiran BDRG. Saat turun dari Mobil yang ditumpanginya, BDRG disambut ramah oleh puluhan warga “yang terlupakan”. “Lho, kelihatannya mereka ini sudah tidak kusta lagi ya. Itu terlihat pada kondisi fisiknya yang sekarang sudah terlihat baik,” sebut BDRG sambil menyelaminya satu persatu.

Pada moment tersebut, BDRG terlihat mendengarkan sekaligus mencatat tentang apa yang menjadi aspirasi. Aspirasi puluhan warga “yang terlupakan” tersebut, diantaranya Pemerintah menghibahkan pekarangan masing-masing domisilinya dengan luas rata-rata dua are, pemerintah memberdayakan mereka melalui usaha pertanian dan peternakan, pemerintah diminta rutin untuk melayani mereka dibidang kesehatan, peningkatan kesejahteraan mereka dari sisi pemberian bantuan berupa sembako dan perhatian lainnya.

“Selai sedih, kita semua juga sangat prihatin dengan kondisi kehidupan mereka ini. Pertanyaan saya yang paling mendasar, kemana Pemerintah selama ini. Kenapa rumah mereka yang kumuh ini tidak diperbaiki melalui program bedah rumah. Kenapa pekarangan tempat mereka tinggal ini tidak dihibahkan saja. Atas sebuah kondisi ini, kita semua harus membuka cakrawala berpikir dan langkah hingga keputusan kongkriet. Sebab, mereka ini adalah manusia yang wajib hukumnya kita perhatikan,’ tegas BDRG.

Tampak BDRG (tiga dari kanan) saat menyerap aspirasi "mereka yang terlupakan" (22/2/2018)
Dari beragam aspirasi yang diterimanya dari puluhan warga tersebut, BDRG berjanji akan membicarakan lebih lanjut dengan sejumlah pihak terkait termasuk Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri. “Untuk langkah awal, Insya Allah saya akan bertemu sekaligus membicarakan dengan Bupati Bima. Kemungkinan pemerintah lupa soal mereka ini, jadi wajib hukumnya kita ingatkan. Sekali lagi, mereka ini adalah manusia yang membutuhkan pertolongan kita semua,” terang BDRG.

Selain menyerap berbagai bentuk aspirasi mereka, BDRG terlihat memberikan bantuan sekadarnya. Bantuan tersebut, diserahkan warga setempat dengan jumlah sekitar 20 orang lebih, baik untuk mereka yang sudah sembuh dari penyakit kusta, 6 orang yang masih menderita kusta dan 2 anak mereka yang masih duduk di bangku SD.

“Saya tidak ingin bentun bantuannya disebut, sebab itu adalah urusan saya dengan Allah SWT. Terimakasih kepada rekan-rekan Wartawan yang telah membuka jalan saya sehingga bisa bersentuhan langsung dengan mereka ini. Harapannya, mereka tetap bersabar dan Pemerintah bisa membuka matahatinya terhadap kondisi mereka ini pula,” harap BDRG.

Sebelum meninggal lokasi dimaksud, BDRG beserta rombongannya melakukan foto bersama dengan puluhan warga. Kegiatan fotro bersama tersebut, juga melibatkan sejumlah awak media. Selanjutnya, BDRG bersama rombongannya langsung menersukan perjalanannya menuju Kota Bima untuk mengikuti sejumlah kegiatan sesuai jadwalnya. “Sekali lagi, terimakasih kepada rekan-rekan Wartawan yang telah mengajak saya ke sini, dan selanjutnya aspirasi mereka akan saya sampaikan kepada pihak terkait,” pungkasnya.   

Abubakar merupakan salah satu tetua dari puluhan warga di perkampung tersebut. Kepada sejumlah wartan, pria yang sudah berumur sekitar 70 tahun tersebut mengaku tak banyak meminta kepada Pemerintah. “Hibahkan tanah ini untuk kami. Biarkan kami hidupo dan mati di lokasi ini. Jika suatu waktu kami mati disini, keluarga kami bisa datang mengaji dan berdoa di sini pula,” pinta Beko dengan nada luluh.

Beko kemudian menjelaskan, para penderita penyakit kusta hampir semuanya sudah sembuh. Namun, kini masih terisisa 6 penderita lagi. Diakuinya, sudah tercatat puluhan tahun pihaknya tidak dilayani dari sisi kesehatan. Dan, tercatat sudah sekitar 40 tahun lebih pihaknya berada di lokasi itu pula, tepatnya sejak zaman masih hidupnya Almarhum Putra H. Andul Kahir. “Dulu ada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah hadir memberikan pelayanan kesehatan kepada kami. Alhamdulillah, kami juga kembali normal setelah diobati oleh WHO,” tandasnya.

Inilah Abubakar alias Beko sebagai tetua di lokasi "mereka yang terlupakan" itu
Beko juga menyatakan, bantuan berupa beras yang semula 10 Kg per orang perbulan dari Pemerintah menurun menjadi 5 Kg per orang per bulan. Selain itu, pihaknya juga tidak menafikan tentang adany bantuan listrik dari Pemerintah serta bantuan berupa sembako, selimut, minyak gorek dan pengadaan mesin pompa air dari pihak diluar pemerintah.

“Apakah beras bantuan 5 Kg per orang per bulan tersebut mampu mencukupi kebutuhan kami, silahkan dikaji sendiri, Nak. Maaf, maaf dan maaf-kami tidak bisa berkata apa-apa, kecuali menerima bantuan deri Pemerintah dengan ikhlas,”  ujar Beko.

Beko menjelaskan, di perkampungan itu hidup puluhan warga yang rata-rata dari keuturnan penderita kusta. Namun, sebahagian besarnya sudah tidak lagi normal sebagaimana orang lain di wilayah lainnya di Kabupaten Bima.

“Kami hidup berbaur dengan manusia yang tidak lagi menderita kusta. Selama berbaur dengan mereka, tidak ada satupun yang tertula penyakit kusta. Di sudut lokasi ini ada warga narmal yang tinggal, mereka juga setiap hari berbaur dengan kami. Kenyataannya, mereka tidak tertular penyakit kusta,” urai Beko.

Beko kemudian menyatakan apresiasi dan terimakasih tak berujung kepada BDRG yang telah menyempatkan diri memberikan bantuan alakadarnya serta menyerap aspirasi dari pihaknya. Pernyataan yang sama, juga disampaikan oleh Beko kjepada pihak-pihak lain yang sudah datang memberikan bantuan serta mengadakan pompa air yang dirasakan sangat membantu pihaknya.


“Oh ya, di sini ada sebuah Masjid yang dibangun sejak puluhan tahun silam. Kini kondisinya sudah rusak parah dan tidak bisa digunakan lagi. Untuk sholat dan ibadah lainnya, kami terpaksa melakukannya di rumah masing-masing. Sekali lagi, permintaan kami tidaklah muluk-muluk. Biarkan kami hidup dan mati di lokasi ini. Hibahkan pekarangan ini ke kami. Jika suatu waktu kami mati di sini, ada keluarga kami yang datang mengaji dan berdoa di sini pula,” pungkas Beko. (Rizal/Wildan/Buyung)

No comments

Powered by Blogger.