Header Ads

Ini Hasil Survey MY Institut Soal Popularitas Parpol Menuju Pileg 2019

 Tingkat popularitas Parpol Versi MY Institut
ViSioner Berita Mataram, NTB-Kompetisi politik Pemilihan Legislatif (Pileg) periode 2019-2024 dipastikan akan berlangsung sengit. Semua Parpol sebagai peserta Pileg, jelas telah mempersiapkan para patarungnya menuju gedung Dewan baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun di Provinsi.

Kendati belum dapat memastikan siapa kompetitornya yang lolos ke gedung Dewan, namun sebuah Lembaga Survei yakni MY Institut telah melakukan Survei tentang tingkat  Papularitas Parpol menuju Pileg  di NTB untuk periode 2019-2024. Dan inilah hasil survei MY Institut yang diperoleh Visioner dari Direktur Eksekutive MY Institut, Miftahul Arzak, S.Ikom., MA, Rabu (1/8/2018).

"Saya dengan teman-teman MY Institute baru saja selesaikan salah satu survei terkait Pileg pada 2019 mendatang. Survei tersebut dilaksanakan pada awal Juni hingga Juli 2018 yang lalu. Survei kali ini bertema 'Perbandingan antara Popularitas Partai Politik dengan Tingkat Kesukaan Masyarakat NTB terhadap Partai tersebut'," ungkapnya.                                             

Survei MY Institute menggunakan metode Multistage random sampling dengan Margin of Error 2,6%, tingkat kepercayaan 95% dan mendapatkan 1200 responden yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota Se-Nusa Tenggara Barat.Sebagai Calon Legislatif (Caleg) tentunya perlu untuk memahami peta perpolitikan di Kabupaten/Kota Se-Nusa Tenggara Barat, maka kami dari MY Institute melakukan survei terkait peta partai politik di NTB.

Ada banyak yang bisa  dibaca dari hasil survei tersebut. Namun, ada dua yang MY Insttut garis bawahi karena cukup signifikan. Pertama, Jika melihat tingkat popularitas dengan tingkat kesukaan masyarakat NTB terhadap partai politik, yang paling signifikan adalah Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P). Popularitas PDI-P berada pada urutan ketiga sedangkan pada tingkat kesukaan masyarakat pada urutan kesepuluh.

 Miftahul Arzak, S.Ikom, MA
“Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh isu-isu keagamaan yang dihembuskan pada partai berlambang benteng tersebut. Apalagi sejak momentum 212 berlangsung di hampir seluruh daerah di Indonesia, PDI-P selalu dikaitkan-kait dengan partai yang tidak pro terhadap kegiatan yang disebut salah satu gerakan umat Islam itu.
Apalagi melihat pergerakan politik nasional, saat ini partai-partai politik saling berebut simpati masyarakat sebagai kubu yang didukung oleh Ulama. Semua bukan tanpa sebab, pada survei MY Institute sebelumnya, tingkat keterpilihan seorang pemimpin dengan membawa isu agama hampir dipilih lebih dari setengah pemilih di NTB”. Tegas Miftahul Arzak, S.Ikom., MA selaku Direktur Eksekutif MY Intitut.

Kedua, selain Partai yang masuk dalam 5 besar adalah partai yang sebelumnya telah menduduki kursi parlemen, yang menarik diamati juga adalah partai-partai yang baru akan mengikuti pertarungan pada pemilihan legislatif 2019 nanti. Dari keempat Partai Politik yang baru bertarung pada legislatif 2019, suara Perindo cukup tinggi dan konsisten.

"Tentunya gaung Partai tersebut tidak dapat dipisahkan dengan kepemiikan salah satu media Nasional oleh ketua umumnya, sehingga lebih mudah memperkanalkan medianya kepada masyarakat. Sedangkan ketiga partai lainnya (PSI, Partai Garuda dan Partai Berkarya) perlu menyusun strategi untuk meningkatkan popularitas partainya hingga April 2019 mendatang," terangnya.

Namun, Miftahul Arzak, S.Ikom., MA selaku direktur MY Institute menjelaskan bahwa semuanya serba dinamis hingga April 2019 mendatang. “Terlebih, beberapa waktu lalu masyarakat NTB diterpa dua situasi politik yang dapat mempengaruhi peta perpolitikan di NTB. Pertama, keputusan Tuan Guru Bajang (TGB) untuk keluar dari Partai Demokrat, kedua Kunjungan Kerja Presiden RI, Jokowi di NTB dua hari lalu yang tidak dapat dipisahkan dengan muatan politik. Dalam survei ini pun kami hanya melihat popularitas partai dan tingkat kesukaan masyarakat terhadap partai tertentu, bukan mensurvei calon legislatifnya. Namun, perlu dipahami juga bahwa Partai adalah selayaknya pakaian bagi calon legislatif. Ada beberapa masyarakat yang menilai seseorang dari pakaiannya dahulu baru isi hatinya, itu yang perlu dipahami oleh para calon.” Tambah Mifta. (TIM VISIONER)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.