Header Ads

Pelan Tapi Pasti, Dinda-Dachlan ‘Sukses Membungkam Nyanyian Para Penghujatnya’

Bupati-Wakil Bupati Bima, Dinda-Dachlan
Visioner Berita Kabupaten Bima-Sekitar setahun lebih menjabat sebagai Bupati-Wakil Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri (Dinda)-Drs. H. Dachlan M. Noer tercatat sering diserang oleh “segelintir orang”. Penyerangan tersebut, dinilai dominan melalui Media Sosial (Medsos). Kata-kata “tak lazim” dari pihak yang menyerangnya, pun acapkali terbaca oleh khalayak melalui Medsos.

Namun yang dinilai paling dominan diserang adalah Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri. Mereka terkesan menyerang bukan saja soal kebijakan Pemerintahan Dinda-Dachlan yang menurutnya belum mampu mewujudkan visi-misi BIMA RAMAH. Tetapi, juga diduga menyerang Dinda secara pribadi.

Antara lain, Dinda ditudingnya dominan ke luar Kota hanya untuk menghamburkan uang rakyat, Dinda lebih mementingkan pribadi, keluarga dan kroninya ketimbang pembangunan daerah, serta diduga masih banyak lagi kata-kata kurang tepat yang diarahkan kepada isteri mantan Bupati Bima, H. Feri Zulkarnain (Almarhum) ini, termasuk Dinda disebut-sebutnya sebagai pemimpin yang rakus.

Sayangnya, berbagai bentuk cercaan-hinaan tersebut, hanya terjadi di dunia maya (Medsos). Uniknya, teraiakan para penghujatnya itu justeru terlihat sepi di dunia nyata maupun melalui jalur hukum. Pembuktiannya, tercermin pada nyaris tak adanya aksi demonstrasi dalam kategori dahsyat dan tak ada pula pengaduan melalui jalur hukum yang mereka lakukan terhadap Bupati-Wakil Bupati Bima ini.

Hujatan lain yang tak kalah hebatnya kepada Bupati Bima oleh sekelompok orang melalui Medsos, juga terkait dengan pemindahan kantor Bupati Bima dari BLK kota Bima Bima ke kantor Bupati Bima yang sudah dibangun di Desa Godo Kecamatan Woha. Pasalnya, mereka menunding bahwa Bupati Bima tidak punya niat baik untuk segera pindah ke kantor Bupati Bima yang sudah dibangun dengan menghabiskan anggaran puluhan miliar rupiah.

Padahal menurut pemerintah, salah satunya yakni sarana dan fasilitas operasional bagi pelayanan publik sebelum menempati kantor baru itu harus memadai sebagaimana tuntutan-perkembangan zaman yang serba melayani masyarakat dengan sistim serba online. Tetapi jauh sebelum perpindahan ke kantor baru, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima terleboh dahulu sudah membangun sejumlah Dinas, Badan dan OPD yang posisinya masih dalam areal bangunan kantor Bupati Bima tersebut.

Namun, kelompok penghujat justeru enggan menerima alasan dalam bentuk apapun dari pemerintah terkait perpindahan kantor Bupati Bima. Bahkan mereka sempat mengancam turun ke jalan untuk memaksa Pemkab Bima agar segera pindah ke Godo. Sayangnya, rencana menurunkan massa berjumlah ribuan itu pun tak dilakukan.

Singkatnya, setelah semua sarana dan fasilitas operasional yang dianggap sudah memadai-akhirnya tertanggal 15 Agustus 2018 kantor Bupati Bima resmi pindah ke kantor baru. Semua bagian dan hampir seluruh OPD pun ikut serta hijrah ke Godo. Sementara yang masih tersisa, hanya beberapa OPD yang salah satunya Bappeda dan Kantor DPRD Kabupaten Bima. Dengan telah remi pindahnya kantor Bupati Bima ke Godo, maka secara otomatis sejumlah OPD yang masih tersisa di Kota Bima juga akan menyusul ke sana. Hanya saja waktunya, sampai detik ini belum diketahui.

Setelah remi menempati rumah baru, tertanggal 16 Agustus 2018 Bupati Bima menggelar acara syukuran yang dirangkaikan dengan kegiatan zikir bersama. Kegiatan tersebut, terlihat menghadirkan ratusan orang Tokoh Agama, Ulama, Tokoh Masyarakat, kalangan Forum Koordinasi Pemerintah Daerah (FKPD), DPRD kabupaten Bima dan lainnya.

Pada moment yang berlangsung hikmad dan meriah itu, Bupati Bima mengutarakan rasa syukur, apresiasi dan terimakasih kepada instansi terkait atas terpenuhinya sarana dan fasilitas operasional bagi pelayanan publik sehingga Kantor Bupati Bima resmi pindah ke tempat baru.

Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri
“Alhamdulillah kita sudah pindah ke rumah baru setelah sarana dan fasilitas pelayanan terhadap publik pada semua bagian sudah terpenuhi. Selamat datang di rumah baru, maka fokus pemerintah kedepan adalah mengoptimalisasikan pengabdian dalam melayani berbagai kebutuhan publik di Kabupaten Bima seperti yang tertuang dalam Visi-Misi BIMA RAMAH. Ucapan terimakasih, kami sampaikan kepada semua pihak termasuk para Ulama dan seluruh elemen masyarakat karena telah ikut berdoa serta berpartisipasi sehingga ekspektasi kita semua untuk Pindah ke rumah baru ini akhirnya terwujud,” papar Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri pada kegiatan syukuran yang dirangkaikan dengan acara zikir bersama itu.

Di masa kepemimpinannya bersama Dachlan yang masih tersisa sekitar dua tahun lebih, Pemerintah akan terus bekerja melayani masyarakat di berbagai bidang pembangunan sesuai rencana yang tertuang secara resmi dalam APBD 2 Kabupaten Bima. Sementara keterbatasan anggaran yang dialami oleh Pemkab Bima sebagai pemicu bagi belum tersentuhnya kebutuhan masyarakat di Kabupaten Bima, tentu saja akan terus diperjuangkannya dengan cara membangun intensitas komunikasi sekaligus koordinasi baik dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB.

“Dari upaya-upaya yang sudah dilakukan itu, ada yang sudah dijawab dan pula yang masih mengharuskan kita untuk terus berjuang keras meminta bantuan dari Pemerintah Pusat maupun Pemprov NTB. Membangun daerah dan masyarakat khususnya di Kabupaten Bima, juga membutuhkan partisipasi serta doa dari seluruh elemen masyarakat di daerah ini. Sekali lagi, mari sama-sama berjuang dengan cara saling bahu-membahu sekaligus menatap kedepan, sebab maju dan berkembang adalah harapan kita semua,” harapnya.

Untuk menjawab ekspektasi tentang perkembangan dan kemajuan daerah serta masyarakat di Kabupaten Bima tersebut, salah satunya membutuhkan kecerdasan dan optimalisasi kinerja seluruh SKPD-OPD sesuai bidangnya masing-masing.

“Amanah yang diemban oleh seluruh Pimpinan SKPD-OPD harus mampu diterjemahkan dalam bentuk nyata. Bekerjalah dengan penuh tanggungjawab, sebab di pundak kita semua terdapat amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di Akhirat nanti. Sementara ide dan gagasan seluruh elemen masyarakat, juga sangat dibutuhkan untuk membangun-memajukan daerah ini baik sekarang maupun akan datang. Sebab, kemajuan daerah ini bukan saja menjadi tugas dan tanggungjawab pemerintah saja. Tetapi, juga menjadi tugas dan tanggungjawab seluruh elemen masyarakat di daerah ini,” tegasnya.

Pada moment-moment penting lainnya, Bupati Bima juga berharap adanya kesadaran pastrisipasi semua pihak pihak agar terus berjuang menciptakan iklim keamanan dan kenyamanan daerah. Pasalnya, dengan iklim yang aman dan nyaman merupakan salah satu pilar penting bagi lancarnya perputaran roda pembangunan di berbagai bidang. Namun, akhir-akhir ini hal tersebut (Bima yang aman dan nyaman) pun diakuinya adanya. Pun, itu menjadi cerminan nyata dari kian tumbuh dan berkembangnya kesadaran semua pihak.

“Kita kaya soal SDA, namun tidak dapat dikelola sendiri oleh pemerintah karena keterbatasan anggaran yang ada. Oleh karenanya, potensi SDA yang ada sangat membutuhkan sentuhan dari para Investor. Tetapi, memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan terhadap iklim investasi merupakan syarat penting untuk menghadirkan investor. Hadirnya Investor untuk mengelola SDA tersebut, tentu saja akan berdampak poisitif pada kemasalahatan daerah dan masyarakatnya. Salah satunya, angka pengangguran tentu saja akan terkikis. Jika daerah lain mampu menciptakan iklim keamanan dan kenyamanan bagi invstasi, maka kita juga dharapkan bisa melakukan hal yang sama,” paparnya.

Pasca Kantor Bupati Resmi Pindah, “Nyanyian Tak Beraturan Sepi di Medsos”

Wakil Bupati Bima, Drs. H. Dachlan M. Noer Saat Memimpin Apel Pagi Perdana di Kantor Bupati Bima di Godo
Kerasnya hujatan dari kelompok tertentu melalui Medsos terhadap Pemerintahan Dinda-Dachlan yang terjadi sejak lama, namun tak membuat kedua pemimpin ini larut di dalamnya. Indikasi itu, ditemukan oleh sejumlah awak media melalui tampilan Dinda-Dachlan yang setiap harinya tetap tampil santai dan tersenyum ramah. Kecuali, sejumlah pihak menilai bahwa Dinda-Dachlan lebih fokus berkinerja melayani masyarakat sebagaimana Tugas Pokok dan Fungsinya (Tupoksi) dalam dunia pemerintahan.

Salah seorang warga Bima, Drs. Amirudin misalnya, dengan tegas menyatakan bahwa kerasnya hujatan dengan kata-kata tak lazim di Medsos yang diarahkan kepada Bupati-Wakil Bupati Bima tersebut merupakan salah satu terminologi dari “kemiskinan kontribusi, ide, gagasan dan partisipasi anak bangsa” dalam membangun daerah dan masyarakatnya baik hari ini maupun akan datang.

“Pemerintah tidak berkantor di Medsos, oleh karenanya Bupati-Wakil tidak melayani masyarakatnya melalui jejaring sosial. Tetapi, Pemerintah punya kantor di dunia nyata dan di sanalah tempatnya masyarakat untuk dilayani dilayani, serta menyampaikan aspirasinya baik secara lisan maupun tertulis. Menurut saya, kita akan menjadi cerdas ketika mampu menyampaikan ide dan gagasan secara tertulis tentang pembangunan yang dibutuhkan oleh masyarakat pada masing-masing wilayah kepada pemrintah yang kemudian dikaji dan dianalisa secara detail dengan harapan dapat ditelurkan melalui kebijakan yang legal. Maaf, ini hanya saran saya dan maaf jika ada pihak yang tersinggung,” harapnya, Sabtu (18/8/2018).

Namun diakuinya, setiap orang memiliki hak secara demokratis untuk ekspresi dan menyampaikan, dan menyatakan apapun melalui media-media yang tersedia, seperti di Medsos. Sebab, sarana tersebut (Medsos) dinilainya sebagai ruang publik yang pada dasarnya diciptakan untuk siapapun.

“Marah, menghujat dan bahkan membenci itu bukan mencerminkan kita sebagai orang hebat. Malah ketika saya melakukan hal itu di Medsos misalnya, itu merupakan tanda-nyata lemahnya saya sebagai anak bangsa. Sebab, saya yakin bahwa para pakar dimanapun berpresepsi bahwa pemarah, penghujat dan pembenci itu tidak tepat untuk dijadikan sebagai guru bagi bangsa ini. Oleh sebab itu, saya akan menjadi rugi ketka marah, benci dan menghujat-apalagi di ruang publik (Medsos),” jelasnya.
Lepas dari itu, Amir menandaskan bahwa “nanyian tak beraturan” diarahkan oleh orang-orang kepada Bupati-Wakil Bupati Bima, akhir-akhir ini dinilainya sudah sangat sepi di Medsos. Dan “nyanyian tak lazim” tersebut ungkapnya, terjadi sejak kantor Bupati Bima berhijrah secara resmi di Godo Kecamatan Woha.

“Menurut saya, ada dua kemungkinan yang mendorong perpindahan kantor Bupati Bima tersebut. Pertama, karena telah terpenuhinya persyaratan operasionalnya untuk melayani publik pada masing-masing instansi. Dan kedua, memang sudah saatnya untuk pindah. Perpindahan kantor Bupati Bima ke Godo, jelas akan melahirkan dampak positif bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Kecamatan Woha dan sekitarnya. Misalnya kalau sebelumnya di sana sepi, kini sudah mulai ramai. Kedua, masyarakay sudah mulai bisa memanfaatkan suasana terang dan ramai itu untuk berjualan untuk menambah penghasilannya setiap hari,” terangnya.

Kantor Bupati Bima di Godo yang sudah beroperasi sejak beberapa hari lalu ujarnya, dapat disebut sebagai salah satu icon penting bagi pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Woha dan sekitarnya. Dan secara psikologis, dengan telah berpindahnya kantor Bupati Bima secara resmi di Godo merupakan salah satu kebanggaan besar bagi masyarakat di Kecamatan Woha dan sekitarnya.

“Ketika anda bertanya di mana kantor Bupati Bima, tentu saja semua menjawab di Woha. Itu adalah kebangaan tersendiri bagi masyarakat di Kecamatan Woha dan sekitarnya. Maka langkah selanjutnya, saya berharap agar warga Godo, Penapali, Donggobolo dan lainnya tetap rukun, damai dan aman dalam bingkai NKRI dan Agama. Dan tugas selanjutnya Pemerintah di sana,  diharapkan dapat melakukan pemetaan secara detail tentang apa saja kebutuhan warga Woha dan sekitarnya untuk kemudian disentuh dengan pemberdayaan. Sebab, dengan hal itu maka angka pengangguran dan hal-hal yang berbau kriinalitas dapat diminimalisir,” sarannya.

Dan dengan berpindahnya kantor Bupati Bima secara resmi ke Godo, diamatinya juga memiliki dampak bagi para pegawainya yang masih berdomilisi di Kota Bima. Salah satunya, berpengaruh secara ekonomis terkait biaya transportasi bagi pegawai rendahan yang masih menggunakan kendaraan sendiri. “Harapan saya, Bupati-Wakil Bupati Bima agar dapat menyediakan mobil operasional untuk keberangkatan dan kepulangan para pegawainya yang berdomisli di Kota Bima, seperti DAMRI,” pungkas Amir. (TIM VISIONER)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.