Header Ads

Wabah Covid-19 (Di Rumah Saja)


Oleh: Rizqi Apriliani

Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram-NTB

“Dirumah saja” adalah istilah yang sedang membooming saat ini, sebagai seruan untuk berdiam diri dirumah saja guna memutuskan rantai penularan wabah virus Corona atau Covid-19 yang menghebohkan seluruh masyarakat di penjuru dunia. Bagi sebagian kalangan, istilah ini merupakan kabar gembira, dan bagi kalangan lain istilah ini bagaikan buah simalakama.

Istilah di rumah saja,  akan terus diterapkan kepada seluruh masyarakat untuk beberapa pecan ke depan sebagai bentuk dari sosial distancing. Sosial distancing merupakan upaya pemerintah dalam meminimalisir penyebaran virus Corona, dimana masyarakat dilarang keras untuk melakukan kegiatan apapun di luar rumah guna untuk menghindari terjadinya kerumunan atau komunitas yang lebih besar sehingga memungkinkan mudahnya penyebaran virus Corona tersebut.

Hal ini tentu memiliki dampak positif dan dampak negatif bagi masyarakat sesuai keadaan dan kondisinya. Bagi kalangan masyarakat yang ekonominya menengah kebawah seperti contoh kasus ojek online pendapatan para pekerja ojek online menurun drastis.

Sebab pendapatan mereka tergantung lalulintas orang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jika banyak orang memilih sosial distancing atau tetap tinggal dirumah, penumpan gojek online pun sepi. Bukan hanya ojek online saja contoh kasus lainya seperti pedagang dan buruh di pasar, dimana pasar sebagai tempat mata pencaharian sebagian besar masyarakat, tempat yang identik dengan keramaian pengunjungnya baik penjual maupun pembeli, terpaksa harus dihentikan untuk sementara waktu karena pandemik Covid-19.

Dimana hal ini mengakibatkan pasar menjadi sepi pengunjung, namun meski telah dikeluarkan kebijakan untuk menutup pasar demi menghindari kerumunan, sebagian masyarakat bersikeras tetap berjualan demi mencari nafkah serta memenuhi kebutuhannya.

Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan para pengunjung pasar, penjual dan pembeli dapat terinfeksi wabah virus Corona. Begitu dilema, maka dampak negatif yang ditimbulkan akibat social distancing adalah dampak ekonomi jangka panjang. Dengan tidak adanya jaminan sosial, mereka menghadapi dilema antara bekerja dengan potensi sakit atau mereka mungkin terpaksa tetap tinggal dirumah dengan hidup serba kekurangan bahkan terancam tidak bias makan.

Maka kondisi ini menempatkan mereka dalam situasi yang sangat sulit. Namun masyarakat tidak bias membantah kebijakan pemerintah ini, konsep dirumah aja merupakan satu-satunya alternatif atau jalan untuk memutuskan laju penyebaran virus Corona dengan diselingi usaha untuk tetap menjaga kesehatan dan mengikuti anjuran dari paramedic dengan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak antar satu sama lain, dan tidak kalah penting berdo’a memohon perlindungan pada Allah SWT sebagai bentuk tawakkal setelah ikhtiar, agar terhindar dari wabah virus corona tersebut. Itu adalahs uatu upaya untuk menjaga diri agar tidakterinfeksi covid-19.

Namun, sisi baik dari merebaknya virus Corona ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang memiliki ekonomi menengah keatas, melainkan seluruh masyarakat secara umum ikut merasakan dampak positifnya, yaitu menjadi lebih dekat dengan keluarga di rumah, kepedulian social meningkat, solidaritas ikut serta dalam membantu tim medis, lebih mengutamakan kebersihan serta menjaga kesehatan dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Maka dari itu, dibutuhkan solusi dari problem yang terjadi, bagaimana peran pemerintah dalam mengatasi krisis ekonomi masyarakat, dimana setiap peraturan atau kebijakan yang di keluarkan bias membawa dampak baik bagi seluruh masyarakat. Misalnya untuk mempercepat pengobatan dan pencegahan penularan yang lebih luas, pemerintah harus menerapkan kebijakan seperti pengadaan alat kesehatan penunjang pemeriksaan, ruang isolasi, dan alat pelindung diri (APD), menggratiskan biaya pemeriksaan baik yang terbukti maupun tidak, ataupun hal-hal yang bersifat pencegahan seperti pembagian masker murah, untuk menjaga perlambatan putaran roda ekonomi.

Dan pemerintah dituntut untuk dapat mengurangi beban biaya masyarakat seperti tarif daya listrik dan harga BBM serta peran bagi masyarakat dengan status ekonomi menengah keatas untuk ikut serta dalam peduli sesama, yaitu dengan membagikan Sembako atau menyumbangkan sedikit rezeki untuk masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya, itu adalah bentuk solidaritas dan peduli sesama.(***)

No comments

Powered by Blogger.