Header Ads

Bima Pelangi Sunda Kecil

Peta Pelayaran Perdagangan Portugis tahun 1598.

Oleh : Alan Malingi 

Orang Sumbawa, Manggarai, Bugis dan sekitarnya menyebut Bima dengan kata "Dimar". Orang Manggarai menyebut Dimar yang berarti pelangi. Warga Manggari Usmand D. Ganggang menyebut dasar penyebutan Dimar untuk Bima di dasari percikan api gunung Sangiang  terbentuk seperti pelangi. Orang Manggarai menyebut dengan Dimar, lama kelamaan berubah menjadi "Dima".

Nama "Dima" telah melekat dalam tutur masyarakat dan menjadi icon perdagangan dan pelayaran di masa silam. Nama Dima untuk Bima juga tertulis dalam peta pelayaran Bugis tahun 1820 yang saat ini dipasang di pelataran Museum Asi Mbojo.  Bima juga masuk dalam jalur pelayaran Portugis tahun 1598. Peta pelayaran Portugis juga dipasang di Museum Asi Mbojo.

Orang Bima nekat berdagang dengan modal kecil dan menggunakan awak perahu dari budak. Mereka memanjangkan pelayarannya supaya mendapatkan untung banyak dari Malaka. “Mereka membeli barang lain untuk dijual di Bima dan Sumbawa, dan di situ mereka membeli berbagai kain untuk dijual di Banda dan Maluku sebagai tambahan dari barang-barang Malaka yang tersisa” (Ibid :221).

Negerakertagama telah menuliskan nama daerah ini. Bima berada di tengah jalur maritim yang melintasi kepulauan Indonesia. Pelabuhan Bima telah disinggahi sekitar Abad 10. Bima adalah kerajaan agraris sekaligus maritim. Abad XV Kejayaan agraris dan maritim Bima dimulai. Kala itu kebijakan pembukaan sawah baru dimulai dan menjadikan Bima sebagai kerajaan lumbung pangan di nusantara timur.  Armada Laut Pabise melakukan ekspansi wilayah ke Manggarai. Abad ke XVI hingga XVII Bima dan pulau Sumbawa telah menjadi bandar penting bagi perdagangan di wilayah timur nusantara.

Peta pelayaran Bugis tahun 1820.

Abad XVII hingga XIX Bima menjadi bandar terbesar di nusantara timur dengan cakupan wilayah dagang di timur pulau Sumbawa hingga Manggarai, Alor dan Solor. Antropolog Ernest The Jong Born dalam Pappernya "Mount Tambora In 1815 On Volcanoes Eruption And Its After Marks" menyebut pulau Sumbawa sebelum letusan gunung Tambora telah terkenal dengan produk pertanian dan kehutanan seperti padi, kopi, kacang hijau, Lada, kayu, rusa dan lain-lain.

Bandar Bima adalah salah satu pelabuhan yang sangat ramai. Sejarahwan Adrian B.Lapian menyebut pada abad 16 dan 17 Bima adalah bandar terbesar setelah berkoalisi dengan Gowa. Bima memiliki undang-undang dan hukum laut yang dikenal dengan “Bandar Bima”. Kejayaan Bandar Bima berhenti setelah pembubaran angkatan lautnya yang disebut Pabise pada masa pemerintahan sultan Abdullah (1854-1868). Tiang kapal di halaman barat Museum Asi Mbojo merupakan bukti sejarah kejayaan bandar Bima dan perdagangan rempah dunia.  

Bima pelangi sunda kecil tempat pertemuan berbagai arus peradaban sejak dulu. Bima dan Dima adalah bagian dari nostalgia sejarah bagaimana kekerabatan, persaudaraan dan hubungan kekeluargaan antara masyarakat Bima dengan wilayah sekitarnya. Warna warni peradaban telah mengisi denyut kehidupan di tanah Bima. (***)

No comments

Powered by Blogger.