Header Ads

Tiga Orang Remaja Asal Kota Bima Ini Beruntung Dengan Gaji Puluhan Juta Rupiah Perbulan, Terimakasih Kepada Walikota

Didi Irawan, Rasmina, Hairil Amar Didampingi Kadis Nakertrans Kota Bima, Ir. H. Tafsir A. Majid, M.Si

Visioner Berita Kota Bima-Perhatian Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi, SE bagi peningkatan ekonomi dan kesehateraan masyarakatnya bukan sekedar wacana hampa. Tetapi itu nyata adanya, walau diakui ditemukan masih adanya kekuranganya.

Tahun 2021, Walikota Bima melalui Disnakertrans setempat berhasil menggagas sebuah program yang mengarah kepada peningkatan ekonomi dan kesehateraan masyaraktnya. Yakni melaksanakan kegiatan rekrutmen Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Bima. Setelah melewati proses perjuangan keras pada jalur formal tersebut, empat orang dinyatakan lulus menjadi PMI di Jepang dengan gaji Rp27 juta lebih per bulan selama masa kontrak tiga tahun, berikut catatan,-

Rasmina, Hairil Amar dan Didi Irawan merupakan warga Kota Bima. Mereka diakui sungguh beruntung dengan gaji yang akan diterimanya sekitar Rp27 juta lebih perbulan selama masa kontrak tiga tahun pertama menjadi PMI di Jepang. Mereka berhasil berangkat ke Jepang setelah dinyatakan lulus melalui uji formal dan Latihan Dasar (Latsar) Bahasa Jepang yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Bima tahun 2021. Namun kabar terkini yang diperoleh Media ini melaporkan, ada satu lagi yang sudah dinyatakan lulus menjadi PMI di Jepang tersebut, yakni dari lulusan SMKN Kelautan Kota Bima.

Ketiga remaja asal Kota Bima juga juga kesemuanya merupakan alumni Keperawatan ini ikut melakukan Latsar Bahasa Jepang selama satu bulan pada Balai Latihan Kerja (BLK) pada Disnakertrans Kota Bima dan kemudian menindaklanjutinya dengan sesi lain yakni verifikasi faktual (Verfal) di Kantor BP2MI Mataram-NTB selama tiga kali pertemuan. Namun Verfal berkas tersebut, diakui dilakukan melalui Daring (online).

“Alhamdulillah, sungguh kami sangat beruntung karena lulus menjadi PMI di Jepang. Sementara yang ikut tes untuk menjadi CPMI ke Jepang itu banyak sekali. Namun Alhamdulillah kami bertiga dinyatakan lulus secara resmi. Selanjutnya kami akan mengikuti kegiatan pelatihan lagi di Jakarta selama enam bulan, hal itu dimulai pada November 2021. Dan untuk fase berikutnya kami akan berangkat menjadi PMI di Jepang,” terang tiga remaja ini melalui Rasmina yang didampingi oleh Kadis Nakertras Kota Bima, Ir. H. Tafsir, A. Majid, M.Si, Kamis (16/10/2021).

Selama mengikuti kegiatan Latsar bahasa Jepang di BLK Kota Bima, diakuinya diperlakukan secara luar biasa oleh Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi, SE melalui Disnakertrans Kota Bima. Maksudnya, tiap hari diberikanuang saku lebih dari Rp100 ribu. Perlakukan yang sangat baik oleh Walikota Bima selama kegiatan Latsar Bahasa Jepang tersebut, juga diakuinya kepada ratusan peserta tes Latsar bahasa Jepang lainya yang dinyatakan belum beruntung (tak lulus).

“Selama kegiatan Latsar bahasa Jepang berlagsung di Kota Bima, salah satunya surat pernyataan yang disiapkan oleh Disnakertrans Kota Bima. Intinya, selama melaksanakan Latsar bahasa Jepang tersebut, kami sangat dibantu oleh Pemkot Bima mulai dari uang saku untuk setiap harinya dan menyiapkan surat pernyataan,” ungkap Rasmina.

Rasmina menjelaskan, pihak mendapatkan informasi terkait adanya rekrutmen CPMI di Kota yakni melalui brosur dan informasi lainya yang disebarkan oleh pihak Disnakertrans Kota Bima, salah satunya melalui Group WA.

“Dari informasi itu, langsung mengajukan surat lamaran resmi kepada Disnakertrans Kota Bima. Alhamdulillah berbagai tahaopan dan proses telah dilewati dan kini kami sudah dinyatakan lulus, selanjutnya akan menjadi TKI resmi di Jepang,” tuturnya.

Rasmina merupakan mantan Pegawai pada Rumah Sakit (RS) Mauhammadyah Kota Bima dengan gajir Rp1 juta lebih per bulanya (sesuai standar UMK). Hairil Amar merupakan pengasuh pada salah satu Jompo di Kota dengan gaji rata-rata jutaan rupiah perbulan (sesuai standar UMK). Sementara Didi Irawan adalah mantan pegawai honorer pada salah satu Puskesmas di Kota Bima dengan upa per bulan yang diterimanya rata-rata Rp100 ribu.

Namun setelah ketiganya dinyatakan lulus secara resmi menjadi PMI di Jepang melalui jalur formal alias tidak menggunanakan jalur Pengusaha Jasa Tekaga Kerja Indonesia (PJTKI) dengan gaji masing-masing puluhan juta rupiah yang akan diterimanya tersebut, praktis saja ketiganya menyatakan rasa bersyukurnya kepada Allah SWT dan berterimakasih kepada Walikota Bima.

“Ini merupakan sejarah pertama di Kota Bima melaksanakan kegiatan tes formal kepada masyarakat Kota Bima untuk menjadi PMI di Jepang. Dan hal tersebut tentu saja sangat membantu kami sehingga bisa lulus menjadi PMI ke Jepang melalui jalur formal. Sekali lagi, kami nyatakan apresiasi, terimakasih, bangga dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Walikota Bima,” ulasnya.  

Dari ketiga remaja asal Kota Bima ini, Rasmina dan Didi Irawan akan ditempatkan di Rumah Sakit (RS) di Jepang. Sementara Hairil Amar akan ditempatkan sebagai Care Worker (Pengasuh) di salah satu RS di Negeri Sakura (Jepang) itu pula. Dijelaskan Rasmini, yang lulus menjadi Care Worker di seluruh Indonesia untuk PMI di Jepang sekitar tahun 2021 sekitar 700 orang (lulus administrasi). Sementara yang lulus menjadi perawat (lulus administrasi) di Jepang pada kegiatan tes tahun 2021 sekitar 20 orang lebih (Ners).

Setelah mengikuti kegiatan tes selanjutnya, untuk Care Worker yang lulus hanya sekitar 200 orang di seluruh Indonesia. Sementara untuk Ners yang lolos pada tes berikutnya hanya 18 orang. Sementara untuk di NTB, yang lulus tes lanjutan untuk Ners hanya 2 orang (Rasmina dan Didi Irawan) dan untuk Care Worker yang dinyatakan lulus secara resmi berjumlah 10 orang, salah satunya adalah Hairil Amar.

“Yang ikut tes melalui jalur formal di seluruhIndonesia tahun 2021, tentu saja sangat banyak. Peserta tes dominan dari disiplin ilmu Keperawatan, dan ada juga yang dari umum. Di Pulau Sumbawa ini, hanya kami bertiga yang dinyatakan lulus melalui jalur formal untuk menjadi PMI di Jepang tersebut,” tandas Rasmina.

Berdasarkan informasi lain yang dihimpun oleh Media Online www.visionerbima.com melaporkan bahwa ada satu lagi remaja asal Kota Bima yang tekah dinyatakan lulus menjadi PMI di Jepang tersebut, yakni peserta tes lulusan dari SMKN Kelautan.  

Sementara motivasinya untuk ikut pada tes melalui jalur formal menjadi PMI tersebut, diakuinya bahwa salah satunya ingin mengetahui budaya Jepang yang dikenal dengan kedisplinananya, orang-orangnya ramah.

“Alhamdulillah kini bahasa dasar jepang sudah kami pahami. Selain itu, selama mengikuti Platsar bahasa Jepang oleh pihak Disnakertrans Kota Bima, para pemateri juga menjelaskan tentang budaya Jepang kepada kami. Dan dengan hal itu pula, Alhamdulillah sedikit-demi sedikit kami bisa mengetahui soal budaya Jepang,” kata Rasmina.

Sementara itu, Kadis Nakertrans Kota Bima Ir. H. Tafsir A. Majid, M.Si yang dimintai tanggapanya menyatakan rasa syukurnya atas lulusnya tiga orang remaja asal Kota Bima ini menjadi PMI di Jepang.

“Alhamdulillah ketiganya sudah dinyatakan lulus secara resmi melalui tes formal menjadi tahun 2021 untuk menjadi PMI di Jepang dengan masa kontrak selama tiga tahun. Dan kontrak kerja mereka akan bisa diperpanjang lagi jika lulus pada tes pada moment rekrutmen usai kontrak kerjanya,” tandas Tafsir.

Pihaknya melaksanakan kegiatan tes sekaligus Latsar bahasa Dasar Jepang kepada tiga orang remaja asal Kota Bima tersebut, berawal dari adanya informasi dari pihak BP2MI Mataram-NTB. Dalam hal itu, pihak BP2MI Mataram-NTB meminta kepada pihaknya untuk menyebarluaskan informasi di Maksud tetang adanya lowongan kerja bagi para Perawat di Jepang. Oleh sebab itu, pihaknya kemudian menyebarluaskan informasi tersebut kepada semua Kampus Keperawatan di Kota Bima, dan PKM-PKM yang ada di Kota Bima.

“Alhamdulillah kita sudah banyak dibantu oleh pihak BP2MI Mataram-NTB dan BP2MI di Pusat. Untuk itu, kami atas nama Pemkot Bima menyampaikan apresiasi dan terimakasih yang tak terhingga kepaa pihak BP2MI Pusat dan BP2MI Mataram-NTB.

Tak hanya itu, pihaknya juga menyebarluaskan informasih dimaksud melalui Media Massa dan Group-Group WA. Namun sebelum para peserta memasukan lamaran secara resmi kepada pihaknya dan kemudian mengikuti kegiatan tes secara formal, Pemkot Bima telah mempersiapkan sarana bagi Latsar Bahasa Jepang dan Tutor yang tentu saja sudah memahami bahasa Jepan berikut budayanya.

“Dan jauh-jauh hari sebelum kegiatan itu dilaksanakan secara resmi di BLK Kota Bima, Walikota Bima menekankan kepada kami di Disnakertrans setempat untuk memprogramkan Latsar Bahasa Jepan untuk tahun 2021. Sebab, Walikota Bima enggan mengirim CPMI ke Luar Negeri menjadi tenaga informal yang dinilai tidak diketahui soal kesejahteraanya dan lainya. Kalau mereka ikut melalui jalur formal, tentu saja soal kesejahteraan dan gajinya perbulan di Luar Negeri bisa kita diketahui secara jelas dan transparan,” beber Tafsir.

Setelah kegiatan rekrutmen CPMI untuk Jepang itu dibuka secara resmi oleh pihaknya, sebanyak 100 orang lebih peserta yang mendaftar. Namun dilakukan seleksi administrasi, hanya 20 orang yang dinyatakan lulus administrasi. Diantaranya 11 orang dari tenaga Keperawatan, lima orang dari lulusan SMKN Kelautan dan ada pula yang dari umum.  

“Informasi hari ini ada satu orang dari Alumni SMKN Kelautan yang dinyatakan lulus secara resmi. Sementara nasib untuk empat orang lainya, sampai saat ini kita belum mendapatkan informasi pasti. Pun demikian halnya dengan nasib peserta tes yang dari umum,” paparnya.

Bagi peserta CPMI yang sudah dinyatakan lulus dari hasil tes Nasional menjadi PMI, dijelaskan bahwa gajinya sesuai yang tertera dalam browsur sekitar Rp30-40 juta perbulanya. Namun untuk Rasmini dan kawan-kawanya (dkk) yakni berkisar Rp27-30 juta perbulan.

Sementara anggaran pribadi yang mereka keluarkan baik untuk kepengurusan administrasi, tes kesehatan dan lainya selama kegiatan formal itu berlangsung, dijelaskanya akan diganti oleh Pemerintah pada saat mereka mengikuti kegiatan selama enam bulan di Jepang.

“Pemerintah juga akan membantu soal kepengurusan Paspornya. Bagi peserta yang sudah dinyatakan lulus secara resmi menjadi PMI di Jepang, selama 6 bulan di Jakarta (sebelum ke Jepang) akan mengikuti kegiatan pelatihan bahasa Jepang, budaya Jepang, dan lainya serta bahasa Inggrisnya. Tiba di Jepang nantinya, mereka juga akan mengikuti kegiatan pelatihan selama enam bulan lagi,” papar Tafsir.

Tafsir menjelaskan, Rasmini dkk akan berangkat ke Jakarta pada November 2021. Selama enam bulan melaksanakan kegiatan pelatihan di Jakarta, mereka juga diberikan biaya oleh Pemerintah sebesar 10 Dollar perhari. “Perhatian Pemerintah kepada mereka ini sungguh luar biasa,” terang Tafsir.

Atas keberhasilan Rasmini dkk lulus menjadi PMI di Jepang melalui jalur formal ini dengan gaji sekitar Rp27 juta lebih perbulan selama tiga tahun masa kontraknya, juga merupakan keberhasilan dari Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi, SE. Sebab dalam sejarah terbentuknya Kota Bima Bima, Walikota Bima sekaranglah (H. Muhammad Lutfi, SE) yang berhasil menggagasya.

“Ini merupakan salah satu bentuk perhatian penting Walikota Bima kepada masyarakatnya, dan sekaligus akan menjadi sejarah termanis bagi Rasmini dkk. Jika sebelumnya Rasmini dkk hanya menerima gaji sebesar itu di Kota Bima, maka setelah menjadi PMI di Jepang melalui jalur formal tersebut tentu saja berdampak kepada peningkatan ekonomi serta kesejahteraan mereka yang kami anggap luar biasa. Dan dengan itu pula, mereka bisa membantu dirinya dan keluarganya,” ujar Tafsir.

Tafsir kemudian menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan menciptakan moment khusus bagi Rasmini Dkk untuk bertemu langsung dengan Walikota Bima. Pertemuan itu direncanakanya yakni sebelum Rasmini Dkk berangkat ke Jakarta dan Jepang.

“Rasmini dkk ini bukan sekedar menyatakan apresiasi dan terimakasih kepada Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi, SE melalui Media Massa. Tetapi, mereka juga beringinan menyampaikan secara langsung kepada Walikota Bima di kediamanya,” pungkas Tafsir. (TIM VISIONER) 

No comments

Powered by Blogger.