Marah Dengan Bupati Bima dan DPRD, Mahasiswa Donggo-Soromandi Blokir Jalan Provinsi

Kendaraan Roda Dua Dan Empat Dibuat Mogok Berkepanjangan

Aksi Blokir Jalan Oleh FPR Donggo-Soromandi Bima.

Visioner Berita Kabupaten Bima-Ratusan mahasiswa Donggo-Soromandi yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR) Donggo-Soromandi Bima melakukan aksi blokir jalan provinsi di Desa Bajo, Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, Rabu (24/5/2023).

Aksi blokir jalan tersebut merupakan kali kedua setelah beberapa hari lalu FPR Donggo-Soromandi menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan gedung DPRD. Buntut dari kemarahan mereka terhadap dua lembaga tersebut yang enggan menerima dan menemui pendemo saat aksi jilid pertama.

Pantauan langsung media online www.visionerbima.com, aksi jilid dua ini dilakukan di pertigaan Desa Bajo Kecamatan Soromandi. Jalan lintas provinsi ini dibuat macet total oleh massa aksi. Puluhan kendaraan roda dua dan roda empat dibuat "tidur" disepanjang jalan. 

Masih dalam pantauan media ini, kendaraan roda dua dan roda empat tersebut dibuat mogok sejak pukul 08.30 WITA sampai pukul 15.10 Wita. Jalan dari arah Kota Bima-Sila Bolo menuju Donggo dan pesisir Soromandi hingga Kabupaten Dompu diblokir total. Bahkan dipaksakan balik haluan. Begitupun sebaliknya.

Sementara pihak kepolisian Kabupaten Bima tetap mengawal dan memastikan aksi blokir jalan yang dilakukan oleh mahasiswa Donggo-Soromandi ini berjalan aman. Namun, sekitar pukul 11.30 siang, massa aksi dan aparat penegak hukum sempat bersitegang. Namun, tidak berlangsung lama.

Ini Tuntutan Mahasiswa

Setelah berorasi sekitar 12 jam, FPR Donggo-Soromandi masih konsisten terhadap isu tuntutan mereka. Yakni, mendesak Pemkab Bima dan DPRD kembalikan Anggara 1 Miliar untuk perbaikan jalan di Donggo-Soromandi (Desa Wadukopa-Kala) yang hilang.

Terkait hilangnya anggaran 1 Miliar ini, FPR Donggo-Soromandi menduga legislatif dan eksekutif bersekongkol mendiskriminasi infrastruktur jalan di Kecamatan Donggo-Soromandi melalui anggaran 1 Miliar dihilangkan.

"Padahal, anggaran 1 Miliar untuk perbaikan jalan di Kecamatan Donggo-Soromandi (Wadukopa-Kala) sudah ditetapkan di Banggar. Bahkan, sudah masuk dalam RAK. Kenapa bisa mendadak hilang?," Tanya Rudy Radiansyah dalam orasinya.

Selain itu, mahasiswa yang akrab disapa Pena Bertinta Api itu meminta dengan tegas pemerintah Kabupaten Bima harus bertanggungjawab atas hilangnya anggaran 1 Miliar. 

"Bupati Bima harus hadir dihadapan massa aksi. Begitu pula dengan ketua DPRD. Sebagai orang nomor satu di Kabupaten Bima, Umi Dinda harus bersuara dihadapan kita terkait hilangnya anggaran 1 Miliar tersebut," tegas Rudy.

Selain menuntut anggaran 1 Miliar, FPR Donggo-Soromandi juga menuntut Gubernur NTB perbaiki jalan lintas Provinsi di Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima yang rusak parah. 

"Gubernur NTB tidak boleh menutup mata. Jalan berlubang sepanjang Kilometer segera di aspal," pinta Afrijal.

Potret Kemacetan di Jalan Provinsi Tepatnya Desa Bajo Kecamatan Soromandi.

Massa Aksi Bersikeras Temui Bupati Dan Ketua DPRD Kabupaten Bima

Setelah berorasi panjang, mahasiswa Donggo-Soromandi bersikeras meminta pertemuan langsung dengan Bupati Bima dan Ketua DPRD. Namun, yang berhadapan dengan massa aksi adalah perwakilan PUPR Provinsi NTB, PUPR Kabupaten Bima bersama Camat Soromandi.

Alih-alih mendapatkan solusi. Massa aksi justru secara tegas meminta perwakilan pemerintah tersebut untuk hadirkan wajah Legislatif dan eksekutif.

"Kami tidak butuh kalian (Perwakilan PUPR Provinsi NTB, PUPR Kabupaten Bima dan Catat Soromandi). Kami hanya ingin Umi Dinda dan Yandi hadir ditengah-tengah kami," pinta Afrijal lagi.

Aksi blokir jalan ini berlangsung lama hingga pukul 18:10 wita. Terlihat massa aksi dan polisi berdialog panjang. Berharap dalam aksi ini ada jalan keluar. Namun, secara tegas massa aksi tetap melakukan aksi blokir jalan.

Masih dalam pantauan media online www.visionerbima.com, sesaat kemudian polisi membubarkan paksa aksi blokir jalan yang dilakukan FPR Donggo-Soromandi. Sebab, kendaraan roda empat dan roda dua yang sedari pagi hingga magrib berharap jalan dibuka kembali.

Dalam peristiwa pembukaan paksa jalan provinsi ini, polisi dan massa aksi terjadi chaos. Hingga penembakan gas air mata tak terkendalikan. Hingga berita ini diturunkan, perwakilan FPR dan polisi masih melakukan negosiasi dan mediasi terbuka. (Joel/Fahriz)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.